Wabah Difteri Meluas Karena Banyak Orang Tua Anti Vaksin?

Dinas Kesehatan Kota Tangerang mencatat sampai tanggal 5 Desember 2017, terdapat tujuh pasien difteri yang dirawat. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang dr Liza Puspadewi, ketujuh pasien difteri itu tersebar di enam kecamatan.

“Jumlah kasus difteri sampai dengan 5 Desember 2017, 7 orang sudah sembuh semua, dengan angka kematian nol,”kata Liza, Rabu, 6 Desember 2017.

Penyebaran difteri itu di Kecamatan Pinang, Tangerang, Benda, Cibodas dan Cipondoh masing-masing satu kasus dan di Kecamatan Batuceper terdapat dua kasus. Sehingga jumlahnya tujuh anak.

“Masalah yang dihadapi adalah para orang tua tidak mengijinkan putra putrinya untuk diimunisasi, orangtuanya anti vaksinasi,” kata Liza. Padahal imunisasi merupakan program prioritas baik pusat maupun Kota Tangerang itu diberikan secara gratis. Semua anggaran di bebankan ke APBN (vaksin dan coldchain), APBD (bahan penunjang dan biaya operasional).

“Kami berupaya keras mencapai target sasaran yang di immunisasi, dilakukan sweeping, saat setelah posyandu maupun kunjungan rumah (cageur jasa),” tutur Liza.

Selain jemput bola untuk vaksinasi, Dinas Kesehatan Kota Tangerang pun melakukan langkah-langkah antisipasi untuk mencegah kejadian luar biasa (KLB) dengan berbagai upaya antara lain KIE (komunikasi Informasi dan Edukasi) di dalam dan di luar gedung,
edukasi melalui media cetak (spanduk, poster, leaflet), melalui surat edaran kewaspadaan dini ke kecamatan, Rumah Sakit , Pusat Kesehatan Masyarakat.

Lalu dilakukan penguatan jejaring dan konsolidasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan dan pendidikan. Upaya lain mengoptimalisasikan PHBS masyarakat. Selanjutnya kewaspadaan dini terhadap pasien yang mempunyai gejala klinis, demam , batuk , nyeri menelan.

“Jika terjadi kasus segera rujuk ke rumah sakit,” Liza menegaskan.

Dinkes, kata Liza juga melakukan pemeriksaan kontak erat kasus (kontak serumah , kontak lingkungan dan kontak di sekolah) dan pemeriksaan swab tenggorokan utk memastikan kuman penyebab.

Langkah lain penanganan wabah difteri, kata Liza, adalah profilaksis untuk kontak erat dengan pemantau minum obat dari tenaga kesehatan PKM dan diimmunisasi DT / TD.

“Pemantauan kontak selama 2 kali masa inkubasi, seluruh biaya dibebankan anggaran pendapatan belanja daerah (APBD),”kata Liza.

Difteri sendiri merupakan penyakit yang sangat menular karena disebarkan lewat batuk dan bersin, atau akibat kontak dengan seseorang yang membawa bakteri difteri atau lewat sentuhan dengan barang-barang mereka seperti sprai dan pakaian. Semakin lama kontak terjadi, semakin tinggi kemungkinan Anda untuk tertular.

Vaksin difteri sendiri sudah tersedia secara luas dan bahkan mungkin sudah diberikan sejak Anda masih berusia sangat muda. Namun, Anda tetap bisa bertemu dengan seseorang yang mengalami difteri dan tidak menutup kemungkinan tertular. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi:

1. Adanya bercak putih keabuan di bagian belakang tenggorokan
2. Suhu tubuh yang tinggi, yang mencapai hingga 38C (100.4F), bahkan lebih
3. Sakit tenggorokan
4. Sesak dan sulit bernapas

Orang yang sudah berusia lanjut dan orang-orang dengan sistem imun tubuh yang sedang melemah memiliki risiko tertular lebih tinggi. Jika dibiarkan, difteri dapat menjadi fatal dan dapat menyebabkan komplikasi yang berpotensi kematian karena adanya radang jantung atau myocarditis, sesak napas dan masalah pada sistem saraf.

Leave a Reply