Usia Bangkai Kapal Di Laut Jawa Ini Terungkap Berkat Label “Made in China”

made in china

Sebuah misteri berusia 800 tahun telah terpecahkan, berkat label “Made in China” pada sepotong keramik.

Selama delapan abad, sebuah kapal hancur secara perlahan di lepas pantai di Laut Jawa Indonesia. Kapal ini meninggalkan ribuan keramik dan barang mewah. Bangkai kapal itu ditemukan oleh para nelayan, yang datang ke lokasi berkat burung-burung yang memakan kawanan ikan yang tinggal di dalam dan di sekitar puing-puing, pada tahun 1980-an.

Dalam beberapa kesempatan, para nelayan itu mulai menyelam ke bangkai kapal yang tenggelam di kedalaman 25 meter. Kapal tenggelam di jalur ramai, yang menghubungkan Singapura selatan dan Kalimantan.

Pada tahun 1993, salah satu dari nelayan menjual pengetahuan tentang bangkai kapal ke perusahaan penyelamatan komersial, yang mulai mengambil ribuan kepingan dari situs tersebut. Pada saat itu, jenis kegiatan ini legal menurut hukum Indonesia.

Tiga tahun kemudian, sebuah perusahaan penyelamatan baru bernama Pacific Sea Resources, kembali mengambil kembali objek-objek di kapal itu. Kali ini bersama dengan para arkeolog dan para ahli lainnya. Pada titik waktu ini, para ahli memperkirakan bahwa dari 100.000 keping keramik yang ada di kapal, hanya 12 persen yang tersisa.

Mereka melakukan penelitian menyeluruh atas kecelakaan itu, menggunakan bongkahan besi untuk memperkirakan ukuran kapal yang berujung pada informasi panjang sekitar 28 meter dan lebar 8 meter. Pacific Sea Resources kemudian membagi dua hasil eksplorasinya ke pemerintah Indonesia dan Field Museum di Chicago, Amerika Serikat.

Lebih dari 7.500 fragmen dari bangkai kapal berada di museum tersebut. Kebanyakan fragmen-fragmen tersebut berupa gumpalan besi yang terkorosi, diekspor dari Tiongkok untuk digunakan sebagai senjata atau alat pertanian di daerah Asia Tenggara.

Fragmen lainnya berupa bobot yang digunakan pada timbangan pedagang, potongan resin aromatik, potongan gading gajah, dan ribuan keramik. Setiap benda kuno memiliki sejarah dan konteksnya sendiri, tetapi tulisan kecil di salah satu fragmen membantu para peneliti membuka misteri di balik rongsokan ini.

“Investigasi awal pada tahun 1990-an menginformasikan penanggalan kapal karam di pertengahan abad ke-13, tetapi kami telah menemukan bukti bahwa mungkin umurnya satu abad lebih tua dari itu,” kata Lisa Niziolek, seorang arkeolog di Field Museum dan penulis utama studi, dalam sebuah pernyataan tertulis.

“Delapan ratus tahun yang lalu, seseorang menaruh label pada keramik ini yang pada dasarnya mengatakan ‘Made in China’, oleh karena itu kami dapat mengetahui umur kapal ini lebih baik.”

Peneliti dari Field Museum itu mengatakan kapal membawa keramik yang ditandai dengan label yang menunjukkan bahwa mereka dibuat di Jianning Fu, Provinsi Fujian, Tiongkok.

“Tidakkah luar biasa pada saat itu keramik memiliki label padanya–biasanya meskipun ada, label akan menunjukkan nama keluarga yang memiliki tempat keramik dibuat,”sambungnya.

Temuan label menjadi penting, karena setelah invasi Mongol pada sekitar tahun 1278, nama daerah itu diubah menjadi Jianning Lu. Oleh karena itu, keramik pada kapal karam tersebut kemungkinan dibuat periode waktu antara 1162 dan 1200.

Niziolek memperkirakan, kapal itu tidak membawa barang antik, melainkan barang dagangan. “Tampaknya tidak mungkin seorang pedagang membayar dan menyimpan barang-barang itu jauh sebelum pengiriman–mereka mungkin dibuat tidak lama sebelum kapal tenggelam,” tambahnya.

Teknik AMS

Memanfaatkan teknik-teknik baru untuk penanggalan radiokarbon–metode untuk menentukan usia suatu objek melalui analisis komponen karbonnya yang membusuk secara alami–Niziolek dan peneliti lain menggunakan teknik accelerator mass spectrometry (AMS).

Teknik ini hanya membutuhkan ukuran sampel lebih kecil tapi bisa memberikan hasil yang lebih tepat daripada metode sebelumnya, yaitu penanggalan radiometrik.

Dalam menganalisis DNA artefak yang ditemukan–ada gading gajah untuk pengobatan atau seni dan resin berbau harum untuk mendempul kapal atau digunakan dalam dupa (Mungkin dari Gujarat di India, atau Jepang)–tim Niziolek mengukur jumlah karbon yang membusuk, yang mengindikasikan muatan kargo lebih tua dari perkiraan sebelumnya.

Para peneliti mengatakan kapal itu karam 800 tahun lalu, bukan 700 tahun lalu seperti yang diperkirakan sebelumnya.

“Ini adalah waktu ketika pedagang Tiongkok lebih aktif dalam perdagangan maritim, lebih bergantung pada rute luar negeri daripada di Jalur Sutra darat,” kata Niziolek. “Kapal karam itu terjadi pada saat transisi penting.”

Meski demikian tidak semua peneliti setuju dengan hasil tersebut. “Argumen atas dasar prasasti di dasar keramik dan hasil penanggalan AMS tidak terlalu kuat,” kata John Miksic, profesor Southeast Asian Studies di National University of Singapore, dikutip dari Smithsonian.com (17/5).

Miksic pernah terlibat di kapal karam itu ketika pertama kali ditelusuri pada tahun 90-an. Menurutnya, penelitian ini tidak membuktikan bahwa tanggal asli kapal karam perlu direvisi.

Ia menambahkan, “Kita tidak memiliki banyak situs seperti kapal karam Laut Jawa yang melintas, sehingga tingkat kepercayaan kami atas penanggalan situs tersebut tidak memiliki cukup bahan perbandingan sebagai dasarnya.”

Miksic setuju bahwa ada banyak hal yang bisa dipelajari dari analisis lanjutan kargo kapal. Dia berharap bahwa suatu saat lebih banyak bangkai kapal akan ditemukan dan dikatalogkan. Termasuk pembuatan basis data untuk perbandingan bahan-bahannya, seperti keramik dan berbagai barang pribadi yang ada di kapal.

Studi lengkap tentang temuan telah dipublikasikan dalam Journal of Archaeological Science: Reports.

Leave a Reply