Tak Terganggu Zero Dollar Tour, Kemenpar China Tetap Anjurkan Bali

Zero Dollar Tour

Beberapa waktu lalu sempat ada polemik Zero Dollar Tour atau aksi curang agen wisata. Namun, Wakil Menteri Pariwisata dan Kebudayaan China, Yu Qun, mengatakan bahwa mereka tetap merekomendasikan Bali sebagai tujuan pariwisata waraganya.

“Kami masih tetap akan menganjurkan masyarakat untuk berwisata ke Bali, Indonesia,” ucap Yu Qun dalam keterangan tertulis.

Yu Qun bertemu dengan Menteri Pariwisata Indonesia, Arief Yahya usai membuka China International Travel Mart 2018, di Shanghai.

Menpar asal Banyuwangi tersebut menyambut dengan positif pernyataan Yu Qun yang mengatakan bahwa warga China patuh terhadap saran pemerintahnya. Dirinya juga mengingat kembali saat terjadi erupsi Gunung Agung di Bali beberapa waktu lalu.

“Saya kira jawaban Wakil Menteri Pariwisata dan Kebudayaan China tadi sudah implisit, bahwa pemerintah China cukup akomodatif. Wisman China itu sangat patuh dengan pemerintahnya. Saat erupsi Gunung Agung September 2017, pemerintah China mengeluarkan Travel Advice ke Bali, hingga pertengahan Januari 2018. Apa yang terjadi Wisman China langsung drop drastis dan butuh 6 bulan untuk recovery,” jelas Arief.

Dirinya juga bercerita, saat Bali mendapatkan Travel Advice dirinya terbang ke Beijing untuk melobi dan menjelaskan bahwa Bali aman. Dia juga mengumpulkan sekitar 400-an pelaku industri pariwisata China, tour agent, tour operator, business gathering, untuk kembali menjual paket wisata ke Bali.

Bukan cuma itu saja, Arief juga melobi dan meyakinkan China National Tourism Administration (CNTA) bahwa Bali dalam keadaan aman.

“Saat itu saya langsung terbang dari Beijing ke Kunming, lanjut ke Chiang Mai, dan merancang pertemuan khusus dengan CNTA di sela-sela ATF 2018, pertemuan antar menteri Pariwisata se-ASEAN. Saya masih ingat, di situlah bertemu Mr Du Jiang, Vice Chairman of CNTA, tanggal 25 Januari 2018,” paparnya.

Dalam pertemuan dengan CNTA, dirinya mengusulkan kedua negara membentuk tim Task Force, agar ada rekan kerja antar kedua negara. Tujuannya agar setiap persoalan yang menyangkut industri di kedua negara bisa diselesaikan dengan baik. “Beliau setuju, dan sejak itu wisman dari China berdatangan lagi,” ungkapnya.

“Saya masih ingat, mengapa saya harus ngotot ke Beijing awal tahun 2018 itu? Untuk mengejar peak season akhir Januari dan awal Februari, liburan Imlek. Dan akhirnya sukses, wisatawan China mengalir kembali ke Bali,” imbuh dia.

Sementara itu, mengenai Zero Dollar Tour, dia setuju kalau pelaku industri yang nakal seperti tidak memiliki izin, harus ditertibkan. Dia juga setuju membuat White List, antarkedua Negara, daftar pelaku industry yang diizinkan beroperasi yang dikeluarkan oleh kedua Negara.

Zero Dollar Tour sendiri merujuk pada kedatangan turis China ke Bali yang membeli paket wisata melalui agen perjalanan wisata di negara mereka dengan harga sangat murah.

Harga paketnya diduga kuat hanya senilai biaya tiket perjalanan Denpasar-China. Sehingga, sekilas terlihat sangat menguntungkan wisatawan yang membeli paket. Tapi pada kenyataannya, selama di Bali, mereka diwajibkan untuk mengikuti jadwal tur yang telah ditetapkan oleh agen wisata.

Agen wisata kemudian menerapkan praktek monopoli. Wisatawan dibawa berbelanja di tempat-tempat yang telah ditentukan, dan sudah terafiliasi dengan agen wisata yang menawarkan paket Zero Dollar Tour. Harga barang-barang yang ditawarkan jauh lebih tinggi dan dengan metode pembayaran nontunai.

Hal ini membuat wisatawan mengalami kerugian, bahkan destinasi wisata dan negara yang dikunjungi juga sama menderitanya. Di paket ini, semua tidak ada yang dapat untung, semua gigit jari lantaran semua transaksi terhubung secara nontunai menggunakan aplikasi dari China.

Leave a Reply