Surat Charles Darwin Mengenai Tuhan Dan Sains Laku Rp 1,7 Miliar

Teori Evolusi Charles Darwin menimbulkan perdebatan dan pertentangan, terutama dari orang-orang relijius yang percaya bahwa makhluk hidup diciptakan oleh Tuhan, bukan berevolusi dari makhluk lainnya.

Sejak pertama kali “The Origin Of Species” diterbitkan pada tahun 1859, buku ini mendapat banyak tekanan karena bertentangan dengan apa yang dituliskan dalam kitab suci mengenai penciptaan makhluk hidup.

Pada Hari Selasa (12/12), Balai Lelang Sotheby di New York City melelang sebuah surat milik Charles Darwin dan terjual seharga 125 ribu dolar atau sekitar Rp 1,7 miliar. Harga ini 2 kali lipat lebih mahal dari perkiraan semula.

Ternyata, bukan hanya karena surat ini ditulis oleh Charles Darwin, seorang ahli biologi yang karyanya mengubah ilmu biologi, melainkan juga karena isi dari surat ini. Dalam surat sepanjang tiga halaman ini, Darwin mengatakan sangat mustahil menyatukan agama dan ilmu pengetahuan.

Surat tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan dari James Grant pada tahun 1878, seorang pembaca “The Origin of Species” yang menanyakan bagaimana mungkin Dunia diciptakan selama 7 hari seperti yang tertulis dalam kitab suci sementara evolusi makhluk hidup sendiri membutuhkan waktu ratusan ribu tahun.

Darwin yang pada saat itu berusia 69 tahun menolak untuk mensejajarkan agama dan ilmu pengetahuan, serta mengatakan satu-satunya bukti bahwa

“Tuhan benar-benar ada hanyalah intuisi manusia yang meyakini kalau ada kekuatan Maha Besar yang menciptakan alam semesta.”

Ia kemudian menuliskan, “Suatu saat akan muncul keraguan dan kesulitan untuk mempercayai intuisi tersebut.”

Darwin sendiri tidak menyebutkan secara gamblang apakah ia percaya pada Tuhan, karena menurutnya untuk membahas hal ini ia harus menuliskan esai panjang sementara ia sendiri tidak cukup kuat dan sehat untuk membahas hal ini.

Kepercayaan dan agama Charles Darwin memang menjadi perdebatan. Ia dan Emma, istrinya, secara terbuka mendiskusikan hal-hal yang berhubungan dengan Agama Kristen. Sampai ketika anaknya yang berusia 10 tahun meninggal, Darwin tidak lagi berbicara soal agama karena takut menyinggung istrinya yang menjadi semakin religius.

Karena itu, surat yang membahas mengenai dampak dari karyanya terhadap agama menjadi sangat berharga, mengingat Darwin jarang sekali mendiskusikan hal ini.

Leave a Reply