Sebelum Liga Dimulai, Musim MU Sudah Terasa Berat

Musim MU

Menarik untuk dinantikan bagaimana kiprah Manchester United di 2018/19. Pasalnya, sejumlah masalah sudah menghampiri MU bahkan sebelum musim baru bergulir.

MU menatap musim depan dengan target memangkas jarak dengan Manchester City, yang terlampau dominan saat menjuarai Premier League 2017/18. Meskipun menjadi runner-up, Setan Merah terpaut 19 poin, jarak terbesar antara tim dua peringkat teratas dalam sejarah kompetisi itu.

Akan tetapi, MU kelihatannya akan kesulitan memenuhi misi tersebut. Hasil pramusim yang buruk, aktivitas di bursa musim panas yang lesu, dan Jose Mourinho, si manajer tim.

Sejauh ini, MU baru mendatangkan tiga pemain anyar: Diogo Dalot, Fred, dan kiper veteran Lee Grant. Hanya Grant yang rutin tampil di laga-laga pramusim MU, sementara Fred baru sekali bermain usai kembali dari Piala Dunia 2018, dan Dalot masih memulihkan diri dari cedera.

Skuat yang belum lengkap menjadi masalah lain bagi MU. Para pemain seperti David de Gea, Victor Lindelof, Paul Pogba, Marouane Fellaini, Jesse Lingard, Marcus Rashford, dan Romelu Lukaku belum bergabung dengan skuat MU usai tampil di Piala Dunia 2018.

Anthony Martial juga belum kembali bergabung usai kelahiran putrinya, plus kondisi Antonio Valencia yang buruk usai liburan dan cedera pula. Pemain andalan Nemanja Matic juga harus naik meja bedah sehingga akan melewatkan awal musim.

Alhasil, pemanasan MU jadi tidak maksimal. MU cuma meraih satu kemenangan — itupun lewat adu penalti — dalam empat pertandingan pramusim. Yang terakhir, MU dihajar Liverpool, dengan skor 1-4 di Michigan, Minggu (29/7). Sekalipun statusnya cuma laga tidak resmi, tidak pernah terasa menyenangkan kalah telak dari rival berat.

Belum adanya tambahan amunisi baru menjadi masalah lain bagi the Red Devils. Harry Maguire (Leicester City), Toby Aldeweireld (Tottenham Hotspur), Jerome Boateng (Bayern Munich), Willian (Chelsea), Ivan Perisic (Inter Milan), Gareth Bale (Real Madrid) disebut-sebut masuk daftar incaran Mourinho. Akan tetapi, tidak ada satupun transfer yang menemui titik terang. Padahal bursa transer akan ditutup sehari sebelum Premier League bergulir pada 10 Agustus.

Rumor seputar masa depan Pogba sama sekali tidak membantu situasi MU. Meski baru menjalani dua musim di periode keduanya bersama MU, Pogba santer dikaitkan dengan kepindahan kembali ke Juventus, yang sebelumnya mendatangkan megabintang Cristiano Ronaldo.

Suasana hati yang buruk diperlihatkan Mourinho usai kekalahan di tangan Liverpool. Manajer asal Portugal itu tidak dapat menyembunyikan rasa frustrasinya karena kondisi timnya saat ini. Dalam konferensi pers usai pertandingan, Mourinho ikut menyindir chief executive MU Ed Woodward, yang memunculkan kabar bahwa keduanya tidak akur.

“Saya ingin memiliki dua pemain baru lagi. Saya pikir saya tidak akan mendapatkan dua pemain. Saya pikir mungkin saya cuma akan dapat satu. Saya sudah memberikan sebuah daftar kepada klub berisikan lima pemain sejak beberapa bulan lalu. Dan saya menunggu apakah mungkin untuk memiliki satu dari pemain-pemain itu,” sungut Mourinho, yang kemudian menyentil Martial serta Valencia.

Serangkaian situasi buruk MU itu bermuara pada sebuah potensi: sindrom musim ketiga Mourinho. Fase yang memicu perginya si pelatih dalam situasi yang kacau.

Di masa lalu, Mourinho mengalaminya saat menukangi Chelsea dan Real Madrid.

Bergabung Chelsea di musim panas 2004, Mourinho sukses mempersembahkan dua titel Premier League, dua Piala Liga, dan satu Piala FA sebelum hengkang pada awal musim 2007/08. Kabarnya, kepergian Mourinho ikut dilatarbelakangi oleh cekcok dengan pemilik klub Roman Abramovich.

Tren serupa terjadi saat melatih Madrid pada 2010, di mana the Special One memberikan satu trofi La Liga dan Copa del Rey, lalu berpisah pada akhir musim 2012/13. Tidak hanya karena El Real nirgelar, Mourinho diketahui berseteru dengan beberapa pemain senior.

Periode kedua Mourinho di Chelsea tidak jauh-jauh amat dari sebelumnya. Kembali ke London Barat pada 2013, Mourinho mengantar Chelsea juara liga dan piala liga di 2014/15. Namun, pertengahan musim 2015/16 menandai akhir karier Mourinho di Stamford Bridge seiring laju buruk Chelsea yang diiringi perselisihan dengan dokter tim.

Sedangkan di MU, Mourinho sukses menghasilkan trofi Liga Europa dan Piala Liga di musim pertamanya pada 2016/17. Semusim kemudian, sekalipun nirgelar MU mampu finis kedua di Premier League, posisi tertinggi sejak juara pada 2012/13.

Leave a Reply