Putri Duyung, Legenda Yang Turut Terbakar Di Museum Bahari

Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa

Jika ingin tahu lebih banyak tentang nenek moyang kita yang konon katanya seorang pelaut, datanglah ke Museum Bahari. Di sana ada sekumpulan koleksi kelautan Nusantara, termasuk perahu tradisional dari berbagai daerah di Indonesia.

Salah satunya kapal pinisi. Replika kapal megah yang banyak diproduksi di Sulawesi itu menjadi salah satu daya tarik dan diletakkan di ruang utama museum. Usianya puluhan tahun.

Bukan hanya itu, Museum Bahari juga berisi kapal-kapal modern dan koleksi TNI AL. Jika ingin melihat sosok-sosok legenda laut, juga bisa ke sana. Replika Dewa Baruna, Davy Jones, sampai putri duyung dan poseidon ada di sana, lengkap dengan informasi kelautan.

Tak ketinggalan, legenda laut asli dari Indonesia, yakni Nyi Roro Kidul alias Ratu Pantai Selatan. Dewi Ruci yang disandang sebagai nama kapal kebanggaan Indonesia tentu menjadi salah satu daya tarik. Informasi tentang Laksamana Cheng-Ho pun dipamerkan.

museum bahari

Bangunan museum yang terletak di Jalan Pasar Ikan Nomor satu, Penjaringan, Jakarta Utara tak jauh dari pasar pelelangan ikan dan Pelabuhan Sunda Kelapa itu merupakan peninggalan VOC di zaman Belanda. Salah satu penandanya, menara syahbandar di depan museum.

Dahulu, VOC menggunakannya sebagai markas penyimpan hasil bumi. Bangunan itu sudah dibangun sejak 1600-an dan dinding utamanya masih digunakan hingga kini.

Peruntukan bangunan tidak jauh berbeda di zaman Jepang. Ia jadi pusat penyimpanan barang-barang logistik. Saat akhirnya diambil alih oleh pemerintah Indonesia, gedung itu menjadi gudang kelistrikan PLN. Ia baru menjadi museum pada 7 Juli 1977.

Sebelumnya, bangunan itu telah melalui proses pemugaran sejak 1976. Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin lah yang meresmikannya menjadi Museum Bahari.

Tahun lalu, ini museum itu kembali dipugar. Dinding luarnya yang dicat ulang, kayu-kayu penyangga atap yang sudah mulai lapuk diperbarui. Meski begitu, pihak museum tetap mempertahankan ciri khas lawas dari gedung, termasuk gapura melengkung yang jadi pintunya.

museum bahari

Jendela-jendela besar khas bangunan Belanda juga masih ada. Revitalisasi yang rampung akhir tahun lalu itu, diharapkan dapat semakin menarik pengunjung. Salah satunya dengan menyediakan ruang untuk pameran seni kontemporer yang isinya bisa berganti-ganti.

Museum Bahari termasuk ramai di saat akhir pekan. Harga tiket masuknya hanya Rp5 ribu per orang dewasa. Anak-anak dan siswa bisa lebih murah lagi.

Sayangnya, museum yang baru saja dipugar itu terbakar kemarin, Selasa (16/1). Berdasarkan informasi yang diterima dari Kantor Pemadam Kebakaran Jakarta Utara, museum yang berada di Jalan Pasar Ikan, Penjaringan itu dilaporkan terbakar pada pukul 08.55 WIB. Salah satu netizen menyebut 60 persen bangunan sejarah museum itu dilahap api.

7 Fakta Museum Bahari

museum bahari

Museum Bahari di Jakarta, Selasa (16/1/2017) hangus terbakar di beberapa bagian. Museum ini sarat sejarah kemaritiman Nusantara, mulai era tradisional berbagai suku di Indonesia, hingga modern.

Tak hanya soal koleksinya yang istimewa, museum ini pun punya perjalanan sejarah yang luar biasa. Bangunan dan menaranya menjadi saksi kejayaan VOC yang memperdagangkan kekayaan alam Nusantara kala itu.

Beberapa fakta-fakta keistimewaan tersebut, dirangkum KompasTravel dalam 7 hal berikut ini:

1. Tempat penyimpanan harta berharga VOC

Saat masa jayanya yaitu abad ke 17, VOC menyimpan banyak kekayaan Nusantara di gudang ini. VOC yang merupakan persekutuan dagang Belanda meyimpan, memilah, menjemur, dan mengepak stok-stok rempah seperti kopi, teh, dan cengkeh di gudang ini.

Tak hanya itu, di bagian gudang sebelah barat, juga kerap digunakan untuk penyimpanan sejumlah komoditi berharga yang dijual di Nusantara. Seperti tembaga, timah hingga tekstil milik VOC.

2. Sempat digunakan sebagai gudang logistik dan senjata

Semasa pendudukan Jepang, gudang VOC ini dialihfungsikan sebagai tempat menyimpan logistik tentara Jepang. Termasuk persenjataan dan bahan pangan.

3. Koleksi maritim yang paling lengkap

Tercatat ada 850 koleksi berharga di museum ini. Terdiri dari perahu zaman nenek moyang hingga kapal modern dari TNI AL. Tak hanya koleksi perahu yang berjumlah ratusan, tapi juga berbagai hal yang berkaitan dengan kemaritiman.

Seperti alat navigasi dari zaman Belanda, peralatan senjata kapal, replika dan benda asli kapal laut dari nusantara, diorama peristiwa bahari, dan pameran temporer yang rutin dipamerkan di lantai dua gedung bahari.

4. Bangunan tertua peninggalan VOC

Museum Bahari merupakan bangunan tertua di Jakarta yang masih bertahan sampai sekarang. Gedung ini dibangun bertahap tiga kali oleh Belanda dari tahun 1652-1771. Dahulu Museum Bahari dijadikan gudang rempah-rempah oleh Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda, VOC.

5. Beberapa bagian masih asli buatan VOC

Bangunan ini menjadi salah satu bangunan tertua yang masih tetap berdiri tegak tanpa banyak perubahan. Tak heran jika memiliki dinding yang amat tebal dan tiang penyangga dari kayu yang amat kokoh.

Bahkan sebagian besar komponennya dinyatakan masih asli oleh pihak museum. Diantaranya Menara Syahbandar, bangunan gudang rempahnya, hingga lantai batu di beberapa bagian museum.

6. Pernah terbakar sebelumnya

Kepala UPT Museum Kebaharian Husnison Nizar mengungkapkan Pernah ada beberapa kebakaran kecil, tapi bisa dipadamkan, sejak dibangun 1977.

“Sejak dibangun tanggal 7 bulan 7 1977. Pernah ada beberapa kebakaran kecil, tapi bisa kita padamkan,” ucap Husnison pada Kompas.com, Selasa (16/1/2018) di museum saat pamadaman api kebakaran.

7. Baru saja direnovasi sebelum terbakar

Kepala Museum Bahari Husnison Nizar mengakui bahwa museum tersebut baru saja selesai proses renovasi pada 30 November 2017 silam.

“Renovasi dilakukan tahun 2017 dan 30 November sudah selesai dipugar. Tapi itu hanya bangunan fisik seperti ganti komponen kayu, kaso yang rapuh, cat gedung dan belum termasuk instalasi listrik,” katanya.

Renovasi yang menghabiskan dana Rp 7 miliar itu telah memugar beberapa bangunan fisiknya. Selain itu proses renovasi juga menyentuh bangunan Gedung C Museum Bahari yang ludes terbakar.

museum bahari

Leave a Reply