Pussy Riot, Band Punk Rusia Yang Terobos Lapangan Final Piala Dunia 2018

Pussy Riot

Final Piala Dunia 2018 antara Prancis melawan Kroasia benar-benar menggambarkan inti dari semua momen krusial yang telah terjadi dari babak grup sampai fase gugur.

Selama puncak pergelaran di Rusia tersebut, kita bisa menikmati berbagai gol melalui proses bunuh diri, VAR, penalti, hingga blunder kiper Prancis Hugo Lloris.

Tapi ada satu momen bonus yang tersaji di babak final Piala Dunia 2018 di Stadion Luzhniki, Minggu (15/7/2018) malam WIB. Pertandingan yang dimenangkan Prancis dengan skor 4-2 itu diwarnai sebuah invasi lapangan.

Ada empat pengunjuk rasa dengan seragam khas polisi Rusia bergegas masuk ke lapangan saat laga babak kedua berjalan 12 menit.

Band punk asal Rusia yang juga anti-Vladimir Putin, Pussy Riot, mengklaim pertanggungjawaban atas aksi tersebut. Mereka memang tidak lama berada di lapangan setelah ditangkap oleh petugas pertandingan.

Tapi para penyusup itu berhasil melakukan beberapa gestur yang membuat para penonton bertanya-tanya. Seorang perempuan dari tim penyusup itu sempat melakukan tos dengan Kylian Mbappé.

Di sisi lain, ada pula seorang penginvasi pria terlibat adu mulut dengan bek Kroasia, Dejan Lovren. Lantas apa sebenarnya pesan yang mereka ingin sampaikan dari tindakan itu?

Dalam sebuah pernyataan, Pussy Riot menjelaskan bahwa seragam polisi mewakili penangkapan ilegal dan penahanan tahanan politik yang tidak mendasar.

Kelompok tersebut mengutip contoh dari Oleg Sentsov, yang menghadapi 20 tahun penjara karena dianggap melakukan ‘konspirasi untuk melakukan tindakan teror’ setelah memprotes Penggabungan Krimea ke Federasi Rusia pada tahun 2014.

Tak lama setelah aksi itu terjadi, Pussy Riot, melalui akun Facebook merilis sebuah pernyataan yang berisi lima tuntutan, yakni:

1. Bebaskan semua tahanan politik.

2. Stop memenjarakan orang hanya demi popularitas atau mendapatkan ‘likes’ di media sosial.

3. Hentikan penangkapan ilegal saat terjadi protes-protes politik.

4. Berikan kesempatan untuk terciptanya persaingan politik yang sehat di Rusia.

5. Jangan mengada-adakan kasus kriminal dan menempatkan orang di penjara tanpa alasan.

6. Ubahlah ‘polisi duniawi’ menjadi ‘polisi surgawi’.

Pussy Riot adalah sebuah grup musik punk rock wanita asal Moskow, Rusia, yang dikenal karena pentas pertunjukan dadakan politik provokatifnya mengenai kehidupan politik Rusia di lokasi-lokasi yang tidak biasa, seperti di atas sebuah bis, di halaman gereja, atau pada perancah di Moscow Metro.

Pada tanggal 21 Februari 2012, empat anggota grup musik ini menggelar pertunjukan di depan Katedral Kristus Juru Selamat di Moskow, yang merupakan gereja Ortodoks terpenting di ibukota Moskow.

Pertunjukan ini mereka namakan ‘Doa Punk’ dan menunjukkan aksi mereka yang menentang kembalinya Vladimir Putin yang kala itu menjabat perdana menteri, untuk memegang jabatan presiden.

Empat pengunjuk rasa yang ditahan telah diidentifikasi. Mereka adalah Petr Verzilov, Olga Kuracheva, Olga Pakhtusova, dan Nika Nikulshina.

Verzilov adalah suami Nadezhda Tolokonnikova, 28 tahun, dipenjara pada 2012 karena ‘hooliganisme’ setelah protes anti-Putin di katedral Moskow.

Veronika Nikulshina, 21, adalah seorang mahasiswa di Plekhanov Russian University of Economics yang bergengsi, dan dikenal oleh teman-temannya sebagai Nika.

Kelompok itu mengungkapkan bahwa mereka menyewa seragam polisi untuk melancarkan aksinya. Sampai tulisan ini dibuat, masih belum diketahui hukuman apa yang akan mereka terima.

Leave a Reply