Produksi Bir Global Terancam Perubahan Iklim

Perubahan Iklim

Para penggemar bir sedang menghadapi masalah baru yang mengancam di masa depan, yakni ketika terjadi perubahan iklim maka kemungkinan akan memicu kenaikan harga yang “dramatis”, sehingga berujung pada kekurangan suplai.

Sebuah studi ilmiah terbaru mengatakan bahwa gelombang panas ekstrem dan kekeringan akan semakin merusak kualitas tanaman gandum barley di tingkat global. Hal tersebut berarti bahan umum pembuatan bir akan menjadi semakin langka.

Dilansir dari The Guardian, Selasa (16/10/2018), negara-negara pembuat bir utama diperkirakan berada di antara mereka yang terkena dampak terparah, seperti Belgia, Republik Ceko, serta Republik Irlandia.

Para peneliti juga mengatakan bahwa jika dibandingkan dengan dampak pemanasan global yang mengancam jiwa, seperti banjir dan badai, kekurangan bir mungkin tampak relatif tidak penting. Tapi, mereka mengatakan bahwa hal itu akan memengaruhi kualitas hidup banyak orang.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Plants, menggunakan model iklim untuk menguji dampak cuaca ekstrem terhadap panen barley selama 80 tahun ke depan.

Tim yang dipimpin oleh Prof Dabo Guan dari University of East Anglia tersebut menambahkan model ekonomi untuk memperkirakan dampak pada pasokan bir, dan perkiraan kenaikan harga jualnya di berbagai negara.

Di China, yang mana merupakan konsumen bir terbesar di dunia saat ini, konsumsinya diperkirakan turun sebesar 9 persen. Tapi, secara global, total penurunannya diperkirakan mencapai 18 pesen.

Jika terkait dampak kenaikan harga, penelitian menemukan bahwa para peminum bir Polandia akan menjadi yang paling terpukul dalam skenario terburuk, dengan biaya naik hingga lima kali lipat.

Di Irlandia, Belgia, serta Republik Ceko, harga akan berlipat ganda. Negara-negara ini akan sangat terpengaruh karena mereka membuat dan minum banyak bir, yang berarti impor bahan baku gandum barley akan semakin membebani ongkos produksi.

Saat ini, hanya sekitar seperenam panen gandum barley dunia digunakan untuk bir, dan sisa sebagian besar diumpankan ke ternak.

Namun, para peneliti menemukan bahwa ekonomi pasar akan mempriroitaskan hewan yang lapar saat persediaan gandum barley berkurang. Ini berarti penurunan besar dalam bahan baku bir, akhirnya menghasilkan penurunan dramatis dalam konsumsi minuman alkohol akibat harga yang naik.

“Kondisi iklim dan harga di masa depan dapat membuat bir tidak dapat dijangkau oleh ratusan juta orang di seluruh dunia,” kata Profesor Steven Davis dari University of California Los Angeles, yang termasuk bagian dari tim peneliti.

Sementara itu, Prof Guan mengatakan ketidakpastian dan asumsi yang dibuat dalam penelitian ini dihitung untuk menggambarkan dampak perubahan iklim, bukan tentang prediksi “kepunahan bir”.

Dia mengatakan jelas dari penelitian terkait bahwa pemanasan global akan membuat bir lebih mahal dan pasokannya berkurang.

Prod Guan memprediksi kedua hal di atas bahkan bisa memengaruhi stabilitas sosial. Dia mencontohkan catatan sejarah di era pelarangan konsumsi alkohol di AS, yang menyebabkan naiknya tingkat kejahatan terorganisasi, termasuk penyelundupan minuman keras.

“Menggunakan biji-bijian lain untuk bahan baku bir bukan pilihan tepat, karena semua tanaman akan menderita cuaca ekstrem,” kata Prof Guan.

“Semua ini akan menjadi lebih mahal, seperti cokelat, kopi dan teh, semuanya akan terpengaruh perubahan iklim,” dia mengingatkan.

Di lain pihak, Prof Richard Ellis dari Reading University, yang tidak terlibat penelitian mengatakan, “Bagi peminum bir, (penelitian) ini mengubah konsep abstrak efisiensi produksi sereal di masa depan, yang kemungkinan bersinggungan dengan potensi konsumsi minuman alkohol.”

Menurutnya, kemungkinan daya tarik bisnis bir akan lebih terlihat potensial dibandingkan sereal, ketika kedua lahan produksi yang berbeda itu sama-sama membutuhkan gandum.

Leave a Reply