Pesepeda Dari Bogor Meninggal di India, Jenazah Telah Disemayamkan

Umartono Nafal Quryanto, pesepeda asal Kota Bogor, Jawa Barat, meninggal dalam kecelakaan saat melakukan perjalanan turing sepeda (solo touring) di perbatasan Nepal dan India pada Rabu (6/12) pekan lalu. Jenazah Nafal sudah dibawa ke kampung halaman dan dimakamkan malam tadi di TPU Loji, Gunung Batu.

Pemakaman berlangsung ba’da magrib setelah jenazah dimandikan, dikafankan dan disalatkan di RSUD Ciawi. Keharuan menyelimuti pemakaman pemuda 28 tahun tersebut yang dihadiri keluarga, kerabat serta komunitas pesepeda yang ada di Bogor.

“Keluarga sudah ikhlas, kami berterima kasih kepada teman-teman almarhum dan juga komunitas atas dukungan morilnya yang luar biasa, tanpa mereka mungkin keluarga tidak mampu untuk memulangkan jenazah,” kata Wahyu Indarto, kakak ipar Nafal seperti dilansir Antara.

Nafal dikabarkan mengalami kecelakaan di wilayah Uttarakhand, sekitar 300 km dari wilayah perbatasan India dan Nepal pada Rabu (6/12). Tersebar di media sosial gambar sepeda milik mahasiswa akhir jurusan Teknik Informatika Universitas Ibnu Khaldun yang jatuh dalam jurang sedalam kurang lebih 30 meter dari permukaan jalan.

Menurut Wahyu, kondisi jenazah saat diterima keluarga dalam keadaan utuh, hanya terdapat luka pada bagian kepala. Termasuk barang-barang dan sepeda yang dibawa Nafal juga ikut dikirim bersama jenazah.

Wahyu mengatakan, perjalanan bersepeda ke wilayah Asia Tenggara dan Nepal merupakan cita-cita adik iparnya sejak masih di bangku SMP. Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut almarhum menabung selama tiga tahun.

“Awalnya niat berangkat Oktober 2016, tapi ketunda karena bekal belum siap. Akhirnya almarhum berangkat 10 Mei 2017, sehari sebelum hari ulang tahunnya,” katanya.

Nafal berangkat dengan bersepeda menuju Tanjung Priok, dari pelabuhan menaiki kapal menuju Batam. Kemudian menyeberang ke Singapura dan bersepeda menuju negara-negara Asia Tenggara. Dari Laos kembali ke Bangkok dan bersiap terbang menuju India. Target akhirnya adalah Nepal.

Selama perjalanan sepedanya, Nafal menggunakan topi Sekolah Dasar sebagai wujud kecintaannya kepada Tanah Air.

Kepulangan jenazah almarhum sempat mengalami penundaan yang awalnya dijawalkan Selasa (12/12), tetapi karena ada kesalahan teknis, peti jenazah baru sampai ke Tanah Air pada Rabu.

Menurut Wahyu, keterlambatan terjadi karena informasi awal bahwa jenazah harus menggunakan penerbangan jam 00.35 dari New Delhi, tetapi jenazah baru diterbangkan dengan pesawat pukul 03.30 WIB. Setiba di Bangkok, Thailand, pukul 09.00 pesawat menuju Jakarta sudah berangkat.

“Jadi keterlambatan terjadi di New Delhi-nya,” kata Wahyu.

Nafal merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Dia tinggal bersama kakak kandungnya Dewi Amalia yang menikah dengan Wahyu Indarto.

Menurut Wahyu, hubungan Nafal dan Dewi sangat dekat. Selama perjalanannya bersepeda ke wilayah Asia Tenggara dan Nepal selalu intens berkomunikasi baik lewat aplikasi pesan “online” maupun panggilan video.

“Hampir setiap hari berkomunikasi, melaporkan kegiatannya apa saja. Hanya terakhir saat mulai perjalanan menuju Nepal, Nafal mengatakan dirinya akan sulit dihubungi selama 10 hari karena masuk wilayah yang susah sinyal,” kata Wahyu.

Tidak disangka pembicaraan tersebut menjadi percakapan terakhir keluarga dengan almarhum Nafal karena pada 6 Desember 2017 pihak keluarga menerima kabar dari KBRI tentang kecelakaan yang dialami Nafal.

Leave a Reply