National Geographic Bagikan Cerita Dibalik 2 Foto Viral Ini

Sebagai media besar yang terkenal dengan mengangkat alam, National Geographic menjadi rujukan banyak orang untuk tahu tentang kondisi alam terkini. Terlebih lagi, National Geographic sering memiliki foto-foto epic seputar kehidupan alam bebas.

Tak terkecuali dua foto epic ini, menjadi perbincangan banyak orang. Dua foto itu tentang seekor kodok memakan ular yang sebetulnya akan memasangnya dan seekor beruang di Baffin Island, dekat Greenland Kutub Utara.

Karena ramainya dua foto epic ini, NatGeo membagikan cerita di balik kamera, sebenarnya apa yang terjadi saat itu!

1. Cerita kodok menelan ular yang sebenarnya akan memangsa kodok tersebut

Cerita ini bermula pada tahun 2011 lalu saat Julie-Anne O’Neill keluar dari rumah di malam hari menjelang badai besar menyerang di Queensland Utara, Australia. Saat itu, Julie ingin melihat respon kehidupan liar saat badai akan datang. Namun, dia kaget dengan apa yang dilihatnya!

Dengan senter yang terpasang di kepalanya, dia mengambil foto yang dia sebut sebagai salah satu foto terbaik yang pernah dia potret! Dia mendengar suara aneh di dekatnya, suara tersebut asing di telinganya dan melengking dengan keras, sebelum akhirnya dia melihat kejadian langka ini.

Katak pohon hijau yang pernah Australia terbesar yang pernah dia lihat. “Katak itu membuka mulutnya, dan saya pikir ‘Ya Tuhan, apa itu!,” kata Julie seperti dilansir dari NatGeo.

Di dalam mulut si kodok, seekor ular cokelat kecil masuk perlahan ke dalam hewan amfibi itu. Bahkan, si ular masih panik mencoba keluar dari mulut kodok.

Menurut Julie,  dia terbiasa melihat kodok pohon hijau di tempat tinggalnya. Mereka biasanya ditemukan di seluruh Australia, tapi ini adalah pertama kalinya dia melihat satu usaha untuk memakan sesuatu selain serangga. Kodok itu mencoba memakan ular dua kali ukurannya.

Awalnya, dia terpana melihat pemandangan itu, tapi kemudian dia teringat kamera digital yang baru dia beli. Juli mengatakan, dia tidak berusaha menjadi fotografer demi sebuah objek fotografi yang bagus. Sebagai gantinya, dia ingin mendokumentasikan beberapa hal aneh yang dilihatnya di alam liar.

“Saya berpikir ketika menceritakan hal ini kepada teman -teman, mereka akan mengatakan itu semua omong kosong. Jadi saya pikir saya akan mengambil kamera dan memotretnya,” ucapnya. Perlu beberapa kali jepretan untuk mendapatkan pandangan jelas tentang ular yang masih menempel di dalam mulut kodok. “Ketika akhirnya saya melepaskan shutter kamera, rasanya seperti kemenangan,” tambahnya.

Julie yakin katak itu akan mati, mengingat ada luka tusukan menggores lidah katak itu dan ular yang masih menggeliat-geliat, dia menganggap makanan amfibi yang tidak biasa itu akan menjadi makanannya yang terakhir.

Tapi di pagi hari, katak itu masih di sana. Dia sempat memungutnya, dan menurutnya ukuran katak itu sebesar dua telapak tangannya.

2. Seekor beruang kutub kurus memakan sampah dan akhirnya menghadapi kematiannya

Pada tanggal 7 Desember, National Geographic menerbitkan video beruang kutub yang mencari makanan di Pulau Baffin dekat Greenland Kutub Utara. Video tersebut mendapat banyak perhatian, dan banyak orang yang melihatnya sebagai representasi pencairan es laut dan perubahan iklim. Cristina Mittermeier, salah satu pendiri SeaLegacy dan salah satu fotografer National Geographic yang hadir saat fotografer Paul Nicklen merekam video tersebut, menceritakan kisahnya hari itu.

Menurut Cristina, seperti dilansir dalam laman resmi NatGeo, tidak ada yang lebih buruk bagi seseorang yang mencintai satwa liar dan alam daripada menyaksikan penderitaan seekor binatang. Itulah sebabnya sangat sulit memotret kesedihan beruang kutub ini, karena tidak dapat membantunya.

“Otot beruang itu lemah, akibat oleh kelaparan yang ekstrem, hampir tidak bisa menahannya. Sudah jelas, bahwa biarpun saya telah memberinya sedikit kacang yang saya miliki di ransel saya, tanpa es laut untuk diburu, prospek kelangsungan hidupnya akan menjadi menjadi susah,” kata Cristina.

Saat dia terhuyung lemah ke arah perkemahan nelayan yang ditinggalkan tempat kami mengamati dan menemukan beberapa sampah untuk dimakan, saya berharap ada sesuatu yang lebih untuk memberinya makan. Dia mengunyah sepotong busa yang dibakar dari sebuah kursi mobil salju yang dia temukan di tempat sampah. Di sana saya merasa sedih melihat binatang ini tidak bisa mendapatkan makanan yang seharusnya.

“Beberapa orang telah mengkritik kami karena tidak berbuat lebih banyak untuk memu beruang itu, tapi kami terlalu jauh dari desa mana pun untuk meminta pertolongan,” kata Cristina

Selain itu, katanya, mendekati hewan buas yang kelaparan, terutama saat tidak memiliki senjata merupakan hal yang gila. Pada akhirnya, dia melakukan satu-satunya hal yang dia bisa, yaitu menggunakan kamera untuk memastikan semua orang dapat berbagi tragedi ini dengan dunia.

“Meski saya tidak bisa mengatakan dengan pasti bahwa beruang ini kelaparan karena adanya perubahan iklim, saya tahu pasti bahwa beruang kutub mengandalkan platform es laut untuk berburu. Arktik yang cepat menguap berarti bahwa es laut hilang untuk waktu yang lama setiap tahun,” ujarnya.

Oleh karena itu, Cristina meminta semua orang untuk bangkit menghadapi perubahan iklim dan membicarakan tentang perlunya mengurangi emisi karbon.

Leave a Reply