NASA: Di Masa Depan, Bumi Bisa Sepanas Neraka Dan Tak Bisa Dihuni

Bumi bisa sepanas neraka

Manusia kerap kali mengeluh tinggal di Bumi. Tak sedikit bahkan yang tanpa sadar merusak planet ini. Padahal, Bumi adalah tempat paling nyaman untuk ditinggali di alam semesta ini.

Namun, jangan salah. Bumi bisa sepanas neraka dan diprediksi pada suatu hari kelak mengikuti jejak Venus, menjadi planet ‘neraka’ dengan awan-awan asam sulfat yang korosif menembus langit dan tanah sehingga panasnya bersinar merah.

Itu adalah peringatan suram yang terkandung dalam sebuah penelitian baru oleh dua peneliti NASA. Riset itu menunjukkan kekhawatiran bahwa planet Bumi menghadapi masa depan yang tak terbayangkan.

“Venus mungkin menunjukkan kepada kita kemungkinan masa depan Bumi,” tulis Giada Arney, dari Laboratorium Sistem Planet NASA, dan Stephen Kane, yang bekerja di Departemen Geologi Universitas California.

“Meskipun Venus saat ini adalah salah satu tempat yang paling tidak bisa dihuni di Tata Surya, memahami planet tertangga terdekat kita mungkin mengungkap proses umum tentang bagaimana lingkungan planet berevolusi – dan kehilangan kelayakhunian – dari waktu ke waktu,” lanjut keduanya seperti dikutip dari Metro.co.uk. Minggu (22/4/2018).

Planet ‘neraka’ Venus adalah yang kedua dari Matahari dan tetangga terdekat Bumi.

Ukurannya hampir sama dengan Bumi kita yang indah, tetapi di sanalah planet yang penuh kesamaan dengan Bumi penuh dengan kematian.

Venus adalah planet terpanas di tata surya kita, dengan tanah begitu panas di banyak tempat, sehingga terlihat ‘pijar merah pudar memancar dari tanah’.

Atmosfer Venus mencapai suhu 462 derajat Celcius. Cukup panas untuk melelehkan timah.

Venus terbungkus dalam awan asam sulfat yang akan dengan cepat melenyapkan manusia.

Namun, planet tetangga ini sesungguhnya tidak begitu buruk. Diyakini Venus adalah ‘dunia yang pernah dihuni’ yang mungkin memiliki kondisi yang tepat untuk mendukung kehidupan sebelum sesuatu membuatnya bak neraka

“Venus mungkin pernah menjadi tuan rumah bagi sejumlah makhluk hidup. Bahkan, mungkin memiliki samudra atau permukaan cair lainnya,” tulis para peneliti melanjutkan.

“Mempelajari Venus berguna karena memungkinkan kita untuk memahami bagaimana planet kita dapat berevolusi di masa depan, terutama karena beberapa kondisi yang keras disebabkan oleh efek rumah kaca,” beber kedua penulis itu.

Kedua peneliti NASA juga mengatakan, planet di luar tata surya mungkin terlihat seperti Bumi, tetapi tidak mampu mendukung kehidupan.

“Dengan demikian, manusia harus memfokuskan pencariannya planet kemungkinan besar layak huni, bukan sekedar hanya mirip Bumi saja,” tulis para peneliti NASA itu.

Para periset NASA mengatakan jika manusia berpikir Bumi tidak akan pernah berakhir seperti Venus, hal itu salah. Keduanya mengingatkan akan komentar dingin yang dibuat oleh Profesor Stephen Hawking awal tahun ini setelah Donald Trump menarik diri dari kesepakatan iklim Paris Juni lalu.

“Kami dekat dengan titik kritis di mana pemanasan global menjadi sesuat yang tidak dapat diubah,” kata Hawking saat itu.

“Tindakan Trump bisa mendorong Bumi di tepi jurang, menjadi seperti Venus, dengan suhu 250 C dan hujan asam sulfur,” ucap Hawking memperingatkan manusia soal masa depan Bumi.

Leave a Reply