Mahasiswa Tingkat Akhir Harus Memiliki Tabungan Sendiri, Ini 7 Alasannya

Mahasiswa Tingkat Akhir

Memasuki tahun ketiga keempat perkuliahan memang merupakan sensasi tersendiri. Selain disibukkan berbagai aktivitas mengerjakan tugas akhir dan skripsi, kegiatan penunjang seperti magang dan kerja sambilan ternyata juga menyita waktumu.

Bayang-bayang tentang apa yang kamu lakukan selanjutnya sudah tergambar di depan mata. Entah itu bekerja di perusahaan, menjadi aktivis sosial, menjadi asisten peneliti, melanjutkan studi, ataupun merintis usaha sendiri. Menyandang status sebagai mahasiswa tingkat akhir memang nanggung rasanya.

Belum lulus, akan tetapi sudah tidak ada pembelajaran di kelas lagi. Mau minta uang kepada orang tua pun malu. Disisi lain, saat ini kamu belum berpenghasilan. Sebelum akhirnya kamu wisuda dan melepas status mahasiswamu, ada baiknya kamu mempunyai tabungan sendiri. Berikut alasannya.

1. Biaya Tetek Bengek Wisuda yang Ternyata Menguras Kantong

Urusan administratif skripsimu telah kamu selesaikan dengan perjuangan. Ketika wisuda adalah syukuran, kini saatnya kamu merayakan. Selain biaya wisuda yang dibebankan kampus, ternyata kamu membutuhkan biaya lain. Misalnya saja jika kamu ingin mengabadikan momen bahagiamu bersama keluarga dengan foto bersama. Kamu tentu memerlukan budget tambahan. Atau jika kamu ingin mentraktir teman-teman dan sahabatmu sebagai ungkapan syukur dan ucapan terima kasih. Ditambah lagi jika kamu adalah seorang wisudawati, pasti banyak biaya pritilan yang ujung-ujungnya menguras dompet seperti make up, sanggul, dan kebaya.

2. Kehidupan Pascawisuda

Setelah kamu bereuforia, kini kamu akan menghadapi realita yang sesungguhnya. Berjibaku dengan email dan aplikasi lamaran kerja. Tentu kamu membutuhkan dana ekstra. Seperti biaya legalisir, cetak foto, mengurus surat-surat khas birokrasi seperti SKCK, surat keterangan sehat, dan lain-lain.  Buat kamu yang berkuliah di luar kota, tentu argometer keuanganmu tetap berjalan. Kamu masih membutuhkan biaya untuk kos dan kebutuhan harian.

3. Akomodasi Selama Menanti Panggilan Kerja

Untuk dapat bekerja di perusahaan idaman tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak jarang jika proses rekruitmen yang dihadapi panjang dengan tahap yang berlapis-lapis. Antara satu tahap dengan tahap yang lainnya membutuhkan proses yang tidak singkat. Mulai dari seleksi administrasi, psikotes, interview HRD, interview user, dan lain sebagainya. Perusahaan yang memberikan kesempatan interview kepadamu pun tidak sedikit yang berasal dari luar kota.

4. Modal Berwirausaha

Untukmu yang memutuskan untuk berwirausaha, tentunya modal merupakan salah satu amunisi yang layak diperhitungkan. Usaha untuk pemula dan rintisan pun juga membutuhkan modal meskipun minim. Meskipun sedikit, tentu kamu membutuhkan pos-pos untuk promosi, packaging, dan distribusi. Dana cadangan pun diperlukan untuk mensuport  dan mengcover usahamu jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

5. Mengcover Kebutuhan Harianmu

Setelah wisuda nanti, kamu akan menemui masa jedamu. Entah itu menanti panggilan kerja, menunggu kuliah S2, atau berwiraswasta.

Kamu juga memerlukan dana untuk sekedar membeli buku atau reuni dengan teman-teman sekolahmu.

6. Persiapan S2

Berkuliah setelah S1 merupakan impian bagi setiap fresh graduate. Selain sedang semangat – semangatnya belajar, berkuliah lagi diusia 20-an tergolong pas karena belum terlalu memikirkan beban kebutuhan layaknya berkeluarga. Dalam proses mendaftar pun membutuhkan biaya berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Bersyukurlah jika orang tuamu mampu memberikan dukungan baik secara finansial maupun non finansial. Kamu pun dapat membantu meringankan beban mereka dengan mandiri secara finansial sedikit demi sedikit. Ikut terlibat dalam proyek-proyek dosen dan penelitian dapat juga menambah jumlah tabunganmu.

7. Budget Khusus Kondangan

Kamu pun secara tidak langsung terlatih menyiapkan pos khusus untuk kebutuhan bersosial yang satu ini. Tentunya kamu ingin memberikan sesuatu terspesial untuk sahabat dihari bahagianya, bukan?

Tantangan-tantangan seperti itu justru membuat kita semakin bersemangat dan tidak berpangku tangan. Selain kerja keras dan doa, beragam cara dapat dilakukan untuk menambah isi rekeningmu. Misalnya saja bekerja paruh waktu, berjualan online, menjadi tentor, menjadi asisten peneliti, dan penulis lepas.

Leave a Reply