Karena Ulah Manusia, Setengah Populasi Paus Pembunuh Bakal Punah

Paus Pembunuh

Manusia punya kontribusi besar terhadap punahnya hewan di dunia, beberapa di antaranya harimau jawa, merpati penumpang dan burung dodo. Kali ini, ada lagi hewan yang diperkirakan setengah populasinya akan punah, yaitu paus pembunuh. Kekhawatiran akan punahnya setengah populasi paus pembunuh bukan disebabkan oleh perburuan liar, melainkan karena polusi! Berikut ulasannya.

1. Paus pembunuh (Orcinus orca) terancam punah karena polychlorinated biphenyls (PCB) atau bahan kimia pembuat perangkat listrik

Ternyata, selama ini produksi pembuatan perangkat listrik yang kita pakai mengandung bahan kimia buatan yang berbahaya, sebut saja insulator, kapasitor dan transformer. Dilansir dariIFLScience, pada 1979, Amerika Serikat memperkenalkan larangan PCB dan mendorong negara-negara lain untuk melakukan hal yang sama. Namun, 40 tahun berselang, kandungan PCB masih cukup tinggi dan berisiko mengurangi populasi paus pembunuh.

2. Diperkirakan populasi paus pembunuh akan berkurang separuhnya dalam 30-50 tahun mendatang

Dilansir dari jurnal Science, dalam 30-50 tahun mendatang, populasi paus pembunuh akan berkurang setengahnya. Penelitian yang dilakukan oleh Jean-Pierre Desforges dan tim ini dilakukan dengan cara menghitung tingkat PCB dari 350 paus di seluruh dunia.

Jumlah tersebut adalah jumlah yang besar untuk ukuran penelitian terhadap paus pembunuh! Penelitian tersebut berusaha memprediksi konsekuensi PCB terhadap sistem kekebalan dan kematian paus pembunuh dan keturunannya selama periode 100 tahun.

3. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari separuh populasi paus pembunuh sangat dipengaruhi oleh PCB

Menurut Desforges yang merupakan peneliti di Universitas Aarhus, Denmark menunjukkan bahwa lebih dari separuh populasi paus pembunuh di seluruh dunia sangat dipengaruhi oleh PCB. Adapun yang paling parah adalah populasi paus pembunuh di sekitar Selat Gibraltar, Pasifik timur laut, lautan di sekitar Brasil dan Inggris.

Penelitian mengungkapkan bahwa populasi paus pembunuh telah berkurang dalam 50 tahun terakhir. Menurut Ailsa Hall, daerah-daerah tersebut jarang ada paus pembunuh baru yang lahir.

4. Ini adalah ancaman mengingat paus memiliki waktu yang lama untuk dewasa dan hamil

Paus pembunuh sendiri butuh periode waktu yang sangat lama untuk hamil, yakni 18 bulan. Sementara, butuh waktu hingga 20 tahun untuk paus pembunuh bisa dewasa dan bisa berkembang biak.

5. Tingkat PCB pada hewan ordo cetacea (paus, lumba-lumba dan pesut) mencapai 1.300 mg per kg

Angka tersebut sangat tinggi, padahal kandungan PCB sebanyak 50 mg per kg saja sudah cukup untuk memicu infertilitas (kemandulan) dan kerusakan sistem kekebalan tubuh. Adapun, alasan mengapa tingkat PCB paus pembunuh begitu tinggi karena mereka adalah hewan terakhir dalam rantai makanan yang sangat panjang.

Hal yang menyedihkan, PCB bisa bertahan dalam waktu yang lama dan dapat ditularkan dari generasi ke generasi, seperti susu ibu yang kaya lemak. Karena itu, masalah PCB akan tetap ada, meskipun nantinya konsentrasinya menurun di lautan.

Itu tadi baru masalah kadar PCB di lautan. Masih banyak lagi daftar panjang kontaminasi lautan yang belum terukur. Selain pencemaran laut, penangkapan ikan besar-besaran dan polusi suara akibat manusia juga punya dampak negatif untuk paus pembunuh loh! Semoga saja akan ada solusi untuk masalah-masalah ini segera. Kamu pun bisa membantu dengan menyebarkan kabar ini ke orang-orang terdekatmu.

Leave a Reply