Jelang Pertemuan dengan Donald Trump, Ini 3 Ketakutan Kim Jong-un

Kim Jong-un

Kim Jong-un dilaporkan khawatir bakal dibunuh saat perjalanan atau dalam pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Singapura pada 12 Juni 2018 mendatang, demikian kata beberapa sumber yang familiar dengan detail pelaksanaan konferensi tingkat tinggi (KTT) tersebut.

Kunjungan Kim Jong-un ke Singapura nanti akan menjadi perjalanan luar negeri terjauhnya sejak ia memimpin Korea Utara tahun 2011.

“Kim Jong-un sangat khawatir tentang keamanan dalam pelaksanaan puncak acara itu, dan ia takut akan upaya pembunuhan terhadapnya,” kata dua orang sumber kepada Bloomberg, seperti dikutip dari Business Insider Singapore, Kamis (7/6/2018).

Kim Jong-un dikabarkan mengkhawatirkan berbagai macam upaya pembunuhan terhadap dirinya, bahkan ketika ia sedang berada di dalam Korea Utara.

Ketika Kim Jong-un pergi ke DMZ saat KTT Korea Utara – Korea Selatan akhir April lalu, pengawalan ketat selalu menyertainya.

Tetapi, sebagai pemimpin sebuah negara yang sering mengancam AS dengan rudal nuklir, naik pesawat dan terbang melintasi wilayah udara internasional ke negara netral dan sangat jauh dari Korea Utara, membuatnya semakin merasa tidak aman.

Apalagi, Korea Utara hampir tak memiliki angkatan udara. Apalagi Kim Jong-un pergi ke Singapura menggunakan pesawat sipil. Ia akan melewati wilayah udara negara lain yang belum tentu jadi kawan Pyongyang. Ditambah lagi, jet militer AS kerap melintas di kawasan tersebut.

Hal lain yang jadi sumber kekhawatirannya adalah faktor alam. Bukan tak mungkin badai atau turbulensi parah terjadi dalam pesawat.

Di samping takut dibunuh, ada hal lain yang kabarnya ditakutkan oleh Kim Jong-un jelang kepergian dirinya ke Singapura untuk melaksanakan pertemuan dengan Donald Trump.

Apakah itu? Simak selengkapnya di bawah ini:

2. Senasib dengan Moammar Khadafi

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dilaporkan tengah khawatir terhadap Pyongyang jika ia menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT), yang mempertemukannya dengan Presiden AS Donald Trump di Singapura pada 12 Juni nanti.

Menurut laporan The Washington Post yang mengutip dua sumber akrab pelaksanaan KTT, Kim Jong-un khawatir, dengan kepergiannya ke Singapura, rezimnya jadi rentan terhadap kudeta militer yang dilakukan oleh pihak dari dalam maupun luar negeri.

Demikian seperti dikutip dari Business Insider Singapore, 23 Mei 2018.

Kabar tentang kekhawatiran itu muncul ketika Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan penasihat kepresidenan AS John Bolton menyebut soal rencana Negeri Paman Sam, yang menginginkan denuklirisasi cepat di Korea Utara.

Bahkan, beberapa pekan lalu, Bolton mengatakan akan menerapkan ‘model Libya’ pada rezim Kim Jong-un dan Korea Utara untuk mencapai tujuan AS soal denuklirisasi di Semenanjung. Trump menginterpretasikan maksud Bolton sebagai intervensi NATO dan Barat terhadap rezim Khadafi pada tahun 2011.

Pada tahun itu, NATO mendukung dan membantu kelompok oposisi yang berusaha untuk menggulingkan Khadafi. Pada akhirnya, Khadafi berhasil digulingkan dan tewas di tangan pemberontak di Tripoli.

Kendati demikian, Trump pada Selasa 22 Mei kemarin mengatakan akan berusaha meyakinkan Kim Jong-un bahwa ia akan tetap berkuasa di Korea Utara, sebagai ganti atas kesepakatannya untuk denuklirisasi dan perlucutan senjata nuklir.

“Saya akan menjamin keselamatannya,” kata Trump. “Dia akan aman, dia akan bahagia, negaranya akan kaya, negaranya akan makmur.”

3. Potensi Kudeta di Pyongyang

Dinasti keluarga Kim telah memerintah Korea Utara secara otoriter sejak berakhirnya Perang Korea pada tahun 1953.

Maka, cukup wajar jika desas-desus tentang potensi pemberontakan militer di dalam Korea Utarasampai ke telinga Kim Jong-un. Dan kini, desas-desus itu semakin menguat jelang perjalanan Kim jong-un ke luar negeri untuk menghadiri KTT Korea Utara – AS.

“Gagasan bahwa kekuasaan Kim aman, pada dasarnya salah,” Victor Cha, mantan direktur urusan Asia untuk Dewan Keamanan Nasional selama pemerintahan George W. Bush seperti dikutip dari Business Insider Singapore, 23 Mei 2018.

“Diktator mungkin menggunakan kekuatan ekstrem dan kejam seperti Kim, tetapi mereka juga secara patologis tidak percaya diri tentang cengkeraman kekuasaan mereka,” kata Cha.

“Semua spekulasi publik tentang kudeta akan memberi makan impuls paranoid seorang diktator untuk memperbaiki persepsi itu secepat mungkin, bahkan jika itu salah tempat atau tak tepat waktu.”

Dugaan itu semakin relevan. Karena, jelang pertemuan Kim Jong-un dan Donald Trump di Singapura, tiga pejabat militer Korea Utara dicopot dari jabatan mereka. Hal ini disampaikan seorang pejabat senior Amerika Serikat pada Minggu, 3 Juni 2018.

Para pejabat Amerika Serikat meyakini bahwa terdapat perbedaan pendapat di tubuh militer Korea Utara terkait pendekatan Kim Jong-un ke Korea Selatan dan Negeri Paman Sam.

Pejabat Amerika Serikat tidak mengidentifikasi tiga pejabat militer Korea Utara yang dicopot. Namun, media pemerintah Korea Selatan, Yonhap, menyebutkan bahwa ketiganya adalah Kepala Pertahanan Pak Yong-sik, Kepala Staf Umum Tentara Rakyat Korea (KPA) Ri Myong-su dan Direktur Biro Politik Umum KPA Kim Jong-gak. Demikian seperti dikutip dari The Guardian, Senin 4 Juni 2018.

Mengutip seorang pejabat intelijen yang tidak disebutkan namanya, Yonhap melaporkan bahwa Pak Yong-sik telah digantikan oleh No Kwang-chol yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Pertama Kementerian Angkatan Bersenjata, sementara Ri Myong-su digantikan oleh deputinya, Ri Yong-gil. Adapun jenderal angkatan bersenjata, Kim Su-gil menggantikan Kim Jong-gak.

Dilansir Independent.co.uk yang mengutip dari Yonhap, salah satu jenderal yang menggantikan tiga pejabat militer Korea Utara tersebut merupakan seorang yang “moderat”, yang dapat melatih “fleksibilitas dalam berpikir”.

Gedung Putih, Kementerian Luar Negeri, CIA, dan Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat belum merespons kabar itu.

Leave a Reply