Inilah Pasangan Tertua di Dunia Asal Jepang Yang Mendapat Guinness World Record

Jepang

Lebih dari 80 tahun perkawinan telah menjadikan pasangan asal Jepang ini pemegang rekor baru untuk pasangan suami istri tertua di dunia yang masih hidup.

Masao Matsumoto, lahir 9 Juli 1910, menikah dengan Miyako Sonoda, lahir 24 November 1917, pada 20 Oktober 1937.

Mereka secara resmi menjadi  pasangan tertua yang masih hidup. Pada Rabu 25 Jul 2018, Masao, tepat berusia 108 tahun 16 hari, sedangkan istrinya, Miyako, berusia 100 tahun 243 hari.

Jika digabungkan, kedua usia pasangan ini menjadi 208 tahun 259 hari.

Setelah bersama selama lebih dari 80 tahun, pasangan ini sekarang memiliki lima anak perempuan (Etsuko, 77, Chizuyo, 75, Mitsue, 71, Emiko, 68, dan Hiromi, 66), 13 cucu dan sudah mempunyai cicit ke-25 pada bulan Agustus lalu.

Namun, hubungan panjang mereka yang mengesankan tidak selamanya mulus, mereka juga mengalami berbagai kesulitan. Keduanya lahir di prefektur Oita, Jepang.

Masao dan Miyako diperkenalkan satu sama lain melalui seorang kenalan. Pasangan itu menikah tahun 1937, tetapi ada kemungkinan bahwa pernikahan itu mungkin saja tidak terjadi.

Berniat untuk mengadakan pernikahan, Miyako dan keluarganya mengunjungi orang tua Masao. Ketika mereka tiba, Masao belum kembali dari wilayah lain di Jepang, karena hal itu Miyako menjadi tidak puas karena pernikahan harus ditunda.

Calon suami Miyako sebenarnya telah melunasi utang saudara-saudaranya dan tidak punya uang untuk kembali ke rumah. Jika pernikahan dibatalkan karena insiden ini, maka tidak akan ada gelar Guiness World Record yang baru.

Kesulitan menimpa pasangan ini ketika Jepang terlibat dalam serangkaian perang.

Sampai akhir Perang Dunia Ke-II, Masao dipanggil untuk dinas militer sebanyak tiga kali, harus meninggalkan Miyako dan dua putri kecil mereka.

Selama perang, Miyako tinggal bersama sekelompok kerabat dan bekerja keras untuk membesarkan anak perempuannya.

Miyako telah mempersiapkan diri untuk kejadian terburuk, kemungkinan bahwa Masao mungkin tidak akan kembali.

Tetapi pada akhirnya Masao bisa kembali ke keluarganya pada 1946.

Setelah kembali ke rumahnya yang menurut Miyako terlihat seperti “hanya dengan kulit dan tulang yang tersisa”, Masao sangat gembira bisa bertemu kembali dengan keluarganya.

Setelah Masao kembali, pasangan itu memiliki tiga anak perempuan lagi.

Namun, lingkungan pasca-perang adalah waktu yang lebih menantang, karena keluarga berjuang untuk kebutuhan sehari-hari, seperti bahan pangan dan sandang.

Anak-anaknya ingat ketika mereka meminta boneka untuk Hinamatsuri (festival tradisional Jepang), tetapi justru ditolak dengan keras oleh Masao.

Masao mendapatkan pekerjaan di sebuah pelabuhan, tetapi seringnya harus pindah ke daerah lain di Jepang, yang berarti keluarganya harus ikut.

Karena kelima putri mereka lahir dan dibesarkan di tempat yang berbeda, mereka tidak memiliki kenangan masa kecil yang sama.

Setelah putri mereka menikah dan memulai keluarga mereka sendiri, Masao dan Miyako dapat menikmati kehidupan pernikahan mereka dengan cara yang tidak dapat mereka lakukan sebelumnya, seperti berkeliling Jepang dan luar negeri bersama.

Setelah pindah ke rumah istirahat (panti wreda), pasangan ini berpartisipasi dalam berbagai acara dan kegiatan.

Staf di sana sangat sopan. Bahkan untuk ulang tahun pernikahan mereka yang ke-80, para staf menyiapkan gaun untuk pemotretan.

Untuk Miyako, pemotretan ini seperti pernikahan yang dia inginkan sejak 80 tahun lalu.

Keluarga sangat gembira terhadap predikat dari Guinness World Record untuk  Masao dan Miyako.

Putri mereka percaya bahwa umur panjang kedua orangtuanya bukan hanya karena kekuatan Masao, tetapi juga Miyako yang selalu menyiapkan ‘makanan enak’ untuk keluarga sampai dia berusia 98 tahun.

Etsuko Kawamura, putri sulung mereka, berjanji untuk hidup selama orang tua mereka.

Aya Ozawa, salah satu cucu mereka, juga senang memiliki “pasangan hidup tertua” sebagai kakek-neneknya.

Berbicara tentang Masao, Aya mengatakan dia sedikit takut pada kakeknya itu saat mereka berdua pergi menghabiskan waktu bersama menonton olahraga.

“Saya sedikit takut pada kakek saya ketika saya masih muda, tetapi ketika saya lebih tua, kami menonton pertandingan bisbol dan bermain bersama; dia juga menceritakan kisah tentang perang. Dan setiap kali kami melakukan itu, saya terkejut dengan betapa tajam ingatannya terlepas dari usianya.”

“Dari musim semi ini, ia sudah tidak bisa menonton bisbol dan sumo di TV karena penglihatannya berkurang, yang membuat semangatnya turun sedikit. Saya sekarang memikirkan cara dia dapat menikmati permainan lagi.”

Ketika keluarga mengunjungi rumah lain untuk mengambil foto dengan sertifikat resmi Guinness World Records, Masao tampaknya berkata, “ayo pergi dan makan udon!”

Udon adalah mie tradisional Jepang dan sangat terkenal di wilayah Kagawa.

Masao yang duduk di kursi roda bersama keluarganya pergi ke restoran udon terdekat.

Masao dan Miyako telah dikonfirmasi sebagai pemegang rekor setelah keluarga mereka mengajukan cukup bukti untuk mendukung pengajuan ini.

Leave a Reply