Ini Alasan Mengapa Racun Kalajengking Bisa Bikin Kaya Mendadak

Racun Kalajengking

Kalajengking sedang menjadi bahan perbincangan hangat tokoh dan petinggi negeri di Indonesia. Gara-garanya, awal pekan ini, Presiden Joko Widodo berpidato menyebutkan komoditas paling mahal di dunia saat ini adalah racun kalajengking. Bayangkan harganya Rp145 miliar per liter.

Peneliti zoologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syahfitri Anita mengatakan hampir semua venom atau racun hewan bisa dipelajari. Racun kalajengking dengan racun hewan lainnya menurutnya, secara prinsip punya hal yang sama, yakni molekul aktif.

Pada racun kalajengking, molekul aktif menyerang sistem saraf dan kemudian melumpuhkan musuh, cukup dengan setetes racun saja. Syahfitri menuturkan, dalam satu tetes racun kalajengking berisi ratusan molekul aktif.

“Prinsip venom hewan itu semuanya punya molekul aktif. Jadi hampir mirip secara prinsip manfaatnya,” ujarnya kepada VIVA, Kamis 3 Mei 2018.

Dia menyebutkan, selain racun kalajengking, venom hewan yang umum di Indonesia yaitu ular, tawon, semut sampai lipan.

“Semuanya punya molekul aktif yang bisa dipelajari,” katanya.

Secara sumber daya, venom hewan di Indonesia bisa dibilang melimpah. Dia mengakui riset venom hewan di Indonesia mulai berkembang. Sayangnya, manfaat dari venom hewan belum optimal. Syahfitri berharap ke depan, riset dan penelitian venom hewan bisa makin berkembang.

“Padahal kita kan punya diversitas tinggi, sangat disayangkan. Mulai dari venom ular itu potensi. Banyak yang mencoba mencari antivenomnya,” jelasnya.

Mahal karena susah dicari

Syahfitri menjelaskan, rata-rata kalajengking menghasilkan sedikit racun. Jika divolumekan, satu individu kalajengking punya di bawah 1 mg. Bahkan untuk kalajengking ukuran besar, hanya menghasilkan 0,5 mg venom. Sementara untuk 1 liter berarti 1000 mg.

Jangankan untuk bisa mengumpulkan racun. Untuk menemukan kalajengking, ujar Syahfitri, begitu sulit. Beda dibanding mencari racun ular, yang mana ular relatif mudah ditemukan dibanding kalajengking.

“Jadi mahalnya (racun kalajengking) karena sulitnya (mencari)” jelasnya.

Dia mengakui studi dan riset racun kalajengking di Indonesia memang masih dalam tahap awal. Maksudnya, belum sampai pada tahap ke pengujian laboratorium untuk diolah menjadi bahan setengah jadi atau sejenisnya.

Racun kalajengking di Indonesia, kalah populer dengan racun atau bisa ular. Syahfitri menuturkan, di Indonesia, racun hewan yang paling dikenal adalah ular. Sebab habitat hewan ini mudah ditemukan.

Leave a Reply