Ini Alasan Mengapa Atlet Selalu Gigit Medali Emas

Medali Emas

Istora Senayan, pada Selasa 28 Agustus 2018, menjadi saksi kemenangan Jonatan Christie, di cabang olahraga bulu tangkis nomor tunggal putra. Lewat kemenangan ini, Indonesia kembali menambah pundi-pundi medali emas di Asian Games 2018.

Usai dikalungi medali dan berfoto bersama, terlihat Jonatan Christie menggigit medali emas yang baru saja dikalungkan di lehernya. Tradisi menggigit medali (terutama emas) dalam sebuah pesta olahraga memang kerap terjadi. Bukan hanya di ajang Asian Games, Olimpiade hingga SEA Games pun juga kerap terjadi.

Rupanya, ada alasan mengapa para atlet melakukan aksi seperti ini. Seperti dikutip dari laman Buzzfeed.com, Selasa (28/8/2018), pose tersebut banyak dilakukan para atlet semata-mata karena atas dorongan sang fotografer.

“Pose tersebut sepertinya menjadi obesesi di kalangan para fotografer,” kata President of the International Society of Olympic Historians David Wallechinsky kepada CNN.

“Saya pikir mereka melihatnya sebagai pose foto yang ikonik, sesuatu yang dianggap menjual. Saya kira atlet tak melakukannya karena keinginan sendiri.”

Menguji Keaslian Emas

Namun, dari sisi sejarah, ternyata ada alasan di balik praktik tersebut: untuk menguji keaslian emas. Dilansir dari Tribune.com, kebiasaan mengigit medali emas untuk menguji kadar keaslian emas pada batu mulia ternyata dilakukan sejak zaman dahulu.

Orang-orang yang menerima koin emas kerap mengigitnya untuk mengetahui keasliannya, kata David W. Lange dari Numismatic Guaranty Corporation. Para pemenang Olimpiade biasanya menggigit medali emas yang mereka dapat. Jika benar-benar murni, setelah digigit akan meninggalkan bekas lekukan atau aus pada medali.

Pasalnya emas dikenal sebagai logam yang lunak. Sedangkan jika keras saat digigit, logam tersebut berarti campuran. Sejak 1912 hingga Olimpiade Rio 2016, medali emas yang diperoleh para atlet memang tidak sepenuhnya terbuat dari emas asli.

Pasca 2012, misalnya, medali emas olimpiade terdiri atas 1,34 persen atau sekitar 6 gram emas. Sebanyak 93 persennya adalah perak dan 6 persen sisanya tembaga. Jumlah emas yang dipakai untuk membuat medali menyusut pasca-Perang Dunia II, demikian menurut kolektor medali emas sekaligus ahli Jim Greensfelder.

Medali yang terbuat dari emas murni hanya diberikan pada tiga olimpiade, pada 1904, 1908, dan 1912 — namun ukurannya lebih mini dari saat ini. Kini menggigit medali emas telah menjadi ritual wajib yang dilakukan para atlet di seluruh dunia.

Leave a Reply