Indahnya Monumen Modderlust Dengan Sejarah Yang Tragis

Monumen Modderlust

Monumen Modderlust memiliki kisah sejarah yang hebat, tapi berakhir tragis. Lokasi monumen yang Indah tidak membuat monumen Modderlust kembali populer dan berjaya seperti dulu.

Siapa yang tidak mengenal PT. PAL (Penataran Angkatan Laut) Indonesia? Galangan Kapal terbesar se Asia Tengara yang berada di Kota Surabaya. Bagaimana dengan monumen Modderlust, ada yang mengenalnya?. Masyarakat umum tentunya lebih mengenal PT. PAL daripada monumen Modderlust. Padahal monumen Modderlust memiliki kisah sejarah yang lebih hebat daripada sejarah PT. PAL. Pemerintah Kota Surabaya dan PT PAL aja yang kurang mempromosikan monumen ini beserta sejarahnya, sehingga nama monumen kurang populer.

Monumen Modderlust berupa sebuah jangkar dengan posisi berdiri. Jangkar ini berdiri diatas bangunan berbentuk limas. Bangunan monumen ini berdiri tepat ditepi Selat Madura masuk wilayah PT. PAL Indonesia. Tinggi monumen Modderlust secara keseluruhan sekitar 2 meter. Terdapat dua buah prasasti menempel dibangunan berbentuk limas yang menyokong patung jangkar.

Dari lokasi monumen kita bisa melihat keindahan alam dan keindahan landscape bangunan-bangunan sekitar selat madura.

Belakang monumen Modderlust terhampar pemandangan indah Selat Madura beserta aktivitasnya. Ombak Selat Madura yang berkilau oleh sisik ikan-ikan baronang yang tengah naik ke permukaan laut. Sisik ikan baronang yang berwarna putih berkilau diterpa sinar matahari. Sementara itu kapal niaga, kapal roro dan kapal perang hilir mudik bergantian melintasi selat madura.

Landscape Pulau Madura sendiri terlihat secara utuh dan jelas. Pulau berwarna hijau karena rimbunnya pepohonan. Sekelilingi Pulau Madura berupa laut dengan warna yang berubah-ubah, terkadang biru, coklat atau hitam. Pohon-pohon dan bangunan-bangunan rumah penduduk madura yang berdiri dipinggir selat madura terlihat jelas dari lokasi monumen.

Pemandangan yang terhampar dari arah timur monumen moderlust, penampakan pelabuhan Tanjung Perak dengan segala aktifitasnya. Terlihat pula gedung Kesyabandaran yang tertutup tiang crane.

Apabila kita alihkan pandangan ke arah timur, kita bisa melihat samar-samar Jembatan Suramadu dan Pangkalan Utama (Lantamal) TNI Angkatan Laut, Lantamal V.

Sosok patung Perwira Angkatan Laut yang kerap disebut Monumen Jalesveva Jayamahe berdiri Gagah. Kapal-kapal Perang Republik Indonesia (KRI) bersandar didepan dan dibelakang monumen.

Kapal-kapal perang tersebut tidak sedikit yang dibuat, diperbaiki dan dirawat oleh PT. PAL. Dari dulu antara PT. PAL Indonesia dengan TNI AL, termasuk Modderlust terjalin hubungan istimewa.

Galangan kapal PT. PAL dan Modderlust (sebelum jadi monumen, Modderlust merupakan sebuah gedung) keduanya dulu instalasi militer milik TNI AL yang berada di Pangkalan Utama TNI AL yang berlokasi dekat dengan sungai Kalimas.

Selanjutnya Galangan Kapal PAL lepas dari TNI AL, berdiri sendiri menjadi BUMN. Menempati lahan bekas Pangkalan Ujung yang berdekatan dengan Sungai Kalimas. Yang mana dalam lahan tersebut terdapat gedung Modderlust yang menjadi bagian PT. PAL.

Sedangkan wilayah Pangkalan Utama TNI AL kemudian bergeser ke sebelah timur. Menjauh dari sungai Kalimas. Wilayah PT. PAL dan Pangkalan Angkatan Laut dipisahkan oleh perairan kecil. Jalur keluar dan masuk kapal-kapal ke dermaga milik TNI AL dan dermaga milik PT. PAL.

Mendengar nama monumen Modderlust terdengar masih asing di telinga masyarakat umum. Jangankan masyarakat umum, karyawan PT. PAL sendiri banyak yang tidak menyadari keberadaan monumen ini.

Saya menduga bentuk monumen yang sederhana dan lokasi monumen yang terpencil, berada di obyek vital dengan akses masuk terbatas ikut andil menyebabkan nama monumen ini kurang dikenal oleh masyarakat umum.

Minat masyarakat umum berkunjung ke wisata sejarah memang minim, namun setidaknya masyarakat mengetahui keberadaan monumen Modderlust.

Seandainya monumen Modderlust berpenampilan megah seperti Monumen Jalesveva Jayamahe, nama monumen Modderlust tentu populer. Masyarakat akan antusias berkunjung, walau monumen berada di daerah terpencil, bahkan di wilayah basis militer sekalipun.

Karyawan PT. PAL sendiri yang lokasi kerjanya dekat dengan monumen tidak antusias mengunjungi monumen ini dan merasa asing dengan nama tersebut, apalagi masyarakat umum.

Mujiono salah seorang pensiunan PT. PAL puluhan tahun bekerja di Galangan kapal milik pemerintah ini, bahkan masa kecilnya sering bermain di dalam kawasan PT. PAL, beliau tidak tahu nama dan sejarah Monumen ini.

Setelah pensiun pria paruh baya ini kembali lagi bekerja kali ini ikut salah satu Perusahaan rekanan PT. PAL. Saat ditemui di dok (bengkel gali) Semarang, tidak jauh dari lokasi monumen. Dan ketika kami menanyakan dimana letak monumen Modderlust? beliau terkesan bingung. “Apa itu?” beliau balik bertanya. Dengan tidak nyakin beliau menunjuk sebuah patung jangkar di ujung dok semarang. “Mungkin itu mas!”.

Demikian pula dengan Pak Poniran yang juga pensiunan PT. PAL seangkatan dengan Pak Mujiono, sama-sama tidak mengetahui tentang Monumen bersejarah ini.

Dari jawaban mereka berdua kelihatan mereka tidak pernah mengunjungi monumen tersebut, walau lokasi kerja mereka dekat dengan monumen. Mereka sekedar melihatnya dari jauh. Jika kita mengunjunginya kita akan tahu nama dan sejarah monumen. Prasasti yang berada ditubuh monumen menjelaskan nama dan sejarah monumen.

Fenomena yang lebih ironis lagi melihat rute pelayaran wisata Artama Harbour Cruise yang diselengarakan oleh Pelabuhan Tanjung Perak.

Rute pelayaran wisata ini mengunjungi destinasi wisata sejarah dan wisata umum sekitar selat madura, diantaranya Gedung Kesyahbandaran, Monumen Jalesveva Jayamahe dan Jembatan Suramadu. Monumen Modderlust tidak dicantumkan dalam rute pelayaran wisata tersebut.

Padahal lokasi Monumen Modderlust berada diantara Gedung Kesyahbandaran dan Monumen Jalesveva Jayamahe. Biarpun penampilan Monumen Modderlust tidak sekeren dan sepopuler tetangganya Monumen Jalesveva Jayamahe. Tapi sejarah Monumen Modderlust tidak kalah hebatnya dengan semua destinasi wisata yang dikunjungi pelayaran wisata Artama.

Prasasti pertama yang menempel di tubuh monumen Modderluat menyebutkan ; Di tempat ini perna berdiri sebuah gedung dengan nama “Modderlust” yang digunakan sebagai Markas BKR Laut, sejak 22-9-1945 sampai tentara sekutu menduduki surabaya.

Pada zaman pendudukan Hindia Belanda, Pemerintah Belanda membangun instalasi militer berupa gedung yang diberi nama Marine Societeit Modderlust atau disingkat Modderlust di Ujung, Pangkalan Utama Angkatan Laut Belanda pada tahun 1890.

Fungsi Gedung ini sebagai tempat rekreasi dan sosialisasi para perwira Angkatan Laut Belanda. R. Sunardi Hamid purnawirawan TNI Angkatan Laut menceritakan pengalaman saat berekreasi di gedung Modderlust. Sebelum instalasi tersebut dirobohkan.

Lantai kayu dan dirancang untuk bersantai, bersosialisasi sambil minum, berdansa dan mendengarkan musik hidup atau memandang ke laut sambil mendengarkan deru ombak memecah pantai. Kisah R. Sunardi Hamid dibukukan dalam judul Dan Toch Maar, Modderlust.

Saat tentara Jepang masuk ke Indonesia, Pangkalan Laut Ujung berpindah tangan dari Belanda ke Kaigun, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.

Memasuki era Kemerdekaan Indonesia, badan-badan perjuangan di Surabaya seperti Badan Keamanan Rakyat (BKR) Surabaya, BKR Laut, Polisi Istimewa, PRI, Pasukan Pemuda Angkatan Laut (PAL), Pemuda Republik Indonesia Angkatan Laut (PRIA), BRIPAL, bersama-sama rakyat Surabaya menyerbu Pangkal Angkatan Laut Jepang di Ujung pada tangal 2 Oktober 2018.

Pagi hari Badan-badan perjuangan bersama-sama rakyat Surabaya bergerak mengepung dari 3 penjuru, dari sepanjang Kalimas, jembatan Petekan dan dari Tanjung Perak.

Pada pukul 10.00 badan-badan perjuangan dan rakyat Surabaya berhasil menguasai pangkalan laut Kaigun. Hal ini memaksa Laksamana Muda Shibata menyerahkan Pangkalan Angkatan Laut Ujung ke Residen Sudirman sebagai Gubernur Jawa Timur.

Bendera sang Merah Putih dikibarkan di gedung Modderlust, untuk pertama kalinya bendera Merah Putih berkibar dikawasan Pangkalan Ujung. Dan badan perjuangan rakyat menjadikan gedung Modderlust sebagai Markas BKR.

Dengan dikuasainya Pangkalan Laut Ujung oleh badan-badan perjuangan bersama, berarti seluruh wilayah surabaya sudah berada dalam kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia.

Beberapa bulan kemudian tentara Sekutu Mendarat di Surabaya dan menguasai Pangkalan Ujung yang berujung pada peristiwa pertempuran 10 Nopember 1945.

Berhasil menguasai Surabaya dan menyelesaikan tugas melucuti tentara Jepang, sebelum meninggalkan Surabaya tentara Sekutu menyerahkan Pangkalan Laut Ujung kembali ke tangan Belanda.

Setelah Pemerintah Belanda mengakui kedaulatan Negara Republik Indonesia (saat itu negara kita berbentuk Republik Indonesia Serikat, RIS). Terjadi proses serah terima instalasi darat salah satunya gedung Modderlust dari Koninklijke kepada Angkatan Laut Republik Indonesia Serikat (ALRIS), yang diubah namanya menjadi Panti Cahaya Samudra (PCS).

Rekan-rekan seangkatan R. Sunardi Hamid (purnawirawan) TNI AL dan para senior masih bisa menikmati gedung Modderlust untuk beberapa puluh tahun kemudian.

“Bagi para perwira AL senior kini, yang pada saat itu masih berpangkat letnan muda, letnan, kapten dan Mayor tentu akan ingat dan terkenang gedung tempat bersantai ini.

Sekian puluh tahun kemudian gedung PCS dirobohkan, lahannya digunakan untuk pembangunan sebuah dok (bengkel gali) kapal bernama Dok Semarang.

Saat ini Gedung Modderlust atau PCS tinggal kenangan yang tersisa tinggal sebuah monumen. Dengan kisah sejarah yang hebat dan berakhir tragis. Lokasi monumen yang Indah tidak membuat monumen Modderlust kembali populer dan berjaya seperti dulu.

Leave a Reply