Ilmuwan Bersemangat Ketika Menemukan Ada Air Di Planet Mars

Planet Mars

Walau tampaknya masih butuh waktu panjang untuk dikonfirmasi melalui penelitian lanjutan, para ilmuwan peneliti Planet Mars kini semakin bergairah untuk membuktikan apakah pernah/masih ada kehidupan di planet keempat dalam sistem Tata Surya tersebut.

Gairah tersebut didorong oleh ditemukannya air di bawah es yang menutupi kutub selatan Mars. Penemuan danau berair di bawah permukaan itu diumumkan oleh para peneliti dari Italia yang bekerja di Badan Antariksa Eropa (ESA) pada Rabu (25/7/2018).

Mencari air dalam penelitian antariksa telah menjadi tujuan utama dalam eksplorasi planet-planet di Tata Surya yang dilakukan berbagai badan antariksa. Pasalnya, keberadaan air bisa menjadi petunjuk kemungkinan adanya kehidupan di luar Bumi.

Mars, karena berjarak dekat dengan Bumi, telah lama dipandang sebagai planet yang kemungkinan besar pernah dihuni oleh makhluk hidup.

Citra yang didapat dari radar MARSIS (Mars Advanced Radar for Subsurface and Ionosphere Sounding instrumentsatelit) menunjukkan kemungkinan adanya danau dengan lebar 20 km sekitar 1,5 km di bawah lapisan es dan debu yang menutupi kawasan seluas 200 km persegi tersebut. Kedalaman air diperkirakan mencapai minimal 1 meter.

MARSIS diterbangkan menuju orbit planet tersebut dalam misi Mars Express pada 23 Juni 2003.

“Anomali pada sub-permukaan Mars menemukan properti radar yang menyamai air atau sedimen yang kaya air,” kata Roberto Orosei, peneliti utama eksperimen MARSIS. Ia juga penulis utama makalah yang diterbitkan di jurnal Science.

Air itu, lanjut Orosei, bukanlah es yang mencair di antara bebatuan, tetapi benar-benar badan air.

Ia menambahkan, area tersebut hanya sebagian kecil dari kawasan yang tengah diteliti sehingga membuka kemungkinan ditemukannya kantong-kantong air di area lainnya.

Sejak misi pertama melintasi Planet Merah dilakukan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pada 1964 dan kemudian mendaratnya Viking 1 di permukaan planet itu pada 1976, bukti-bukti pernah adanya air telah ditemukan. Namun baru kali ini ditemukan bukti keberadaan air dalam kondisi cair di sana.

“Air ada di sana,” kata Enrico Flamini, mantan ilmuwan utama Badan Antariksa Italia (ISA) yang mengawasi penelitian itu, dikutip The New York Times.

“Benda itu cair, dan asin, dan bersentuhan dengan bebatuan. Semua itu adalah bahan-bahan yang membuat kita berpikir tentang kemungkinan ada kehidupan di sana, atau bisa berlangsung di sana jika pada suatu masa memang pernah ada kehidupan di Mars.”

Kondisi danau di bawah lapisan es Mars itu mirip dengan danau subglasial (danau yang terletak di bawah gletser) yang ditemukan di Bumi, seperti Danau Vostok di Antartika.

Di Danau Vostok banyak ditemukan makhluk hidup berupa mikrob, didominasi gen bakteri, terutama dari kelompok ekstremofil yang menyukai tempat dingin dan miskin cahaya.

Oleh karena itu, seperti dikatakan Flamini di atas, para peneliti tidak menutup kemungkinan adanya kehidupan di danau Mars.

Akan tetapi, jika makhluk hidup di planet itu sama dengan makhluk yang hidup di Bumi, kemungkinannya sangat kecil untuk bisa bertahan di kawasan tersebut.

Suhu lapisan gletser di atasnya saja bisa mencapai antara minus 10 hingga minus 30 derajat Celsius. Agar air tetap cair dalam suhu sedingin itu, maka dibutuhkan konsentrasi garam yang amat tinggi.

Tingkat keasinan danau di Mars itu bahkan mungkin lebih tinggi dibandingkan air di danau subglasial yang baru ditemukan di daerah Arktik Kanada pada April lalu. Air di danau subglasial itu lima kali lebih asin daripada air laut.

“Ada kemungkinan air itu adalah air asin berkonsentrasi tinggi yang amat dingin, sehingga sangat menyulitkan untuk hadirnya kehidupan,” jelas Dr Claire Cousins, ahli astrobiologi dari University of St Andrews, Inggris, kepada BBC.

Ahli planet di NASA Jet Propulsion Laboratory, Jeffrey Plaut, dalam Nature menyatakan penemuan ini belum merupakan sebuah “gol”, masih butuh bukti-bukti pendukung. Namun jika studi lanjutan mengonfirmasi keberadaan danau itu, terbuka berbagai kemungkinan cara baru dalam menjelajahi Mars.

Para peneliti ESA mengakui bahwa masih banyak pekerjaan yang mereka lakukan untuk bisa membuktikan keberadaan air tersebut.

Flamini mengakui bahwa belum banyak yang bisa dibicarakan dari hasil penelitian terbaru ini.

“Kita baru dimungkinkan untuk menebak mengenai bagaimana kondisinya dan apakah kondisi itu mendukung (kehidupan),” ujarnya.

Namun Dmitri Titov, ilmuwan proyek Mars Express, menyatakan temuan ini membuka potensi-potensi besar bagi ilmu pengetahuan.

“Penemuan yang menggetarkan ini adalah sorotan utama ilmu planet dan akan berkontribusi terhadap pemahaman kita mengenai evolusi Mars, sejarah air di planet tetangga kita itu, dan kelayakannya untuk dihuni,” kata Titov.

Konfirmasi terdekat mungkin bisa didapat ketika misi ke Mars pemerintah Tiongkok jadi meluncur pada tahun 2020. Kalau mereka juga menemukan danau subglasial di lokasi yang sama dengan yang ditemukan oleh MARSIS, berarti adanya ekosistem air di bawah permukaan Mars akan semakin kuat.

“Saya hanya bisa mengatakan bahwa ada pintu baru yang dibuka dan harus kita lalui, kemudian menjelajahi apa yang ada di baliknya. Dari hasil yang sudah kami dapat, kami akan mempelajari apakah Mars benar pernah terhubung dengan Bumi dalam arti keberadaan habitat kehidupan,” pungkas Orosei dalam Popular Machanic.

 

Leave a Reply