Hashtag Tertua Di Dunia Ditemukan, Berusia 73 Ribu Tahun

Pada tahun 2014 lalu, para ilmuwan dari Universitas Griffith, Queensland, Australia menemukan sebuah lukisan kuno yang diperkirakan telah berusia 40.000 tahun di dalam sebuah gua di Maros, Sulawesi Selatan. Lukisan berupa bentuk tangan itu didapuk sebagai seni lukis gua tertua di dunia.

Baru-baru ini, para ilmuwan kembali menemukan lukisan di dalam sebuah gua di Kota Cape Town, Afrika Selatan yang usianya jauh lebih tua dari lukisan di gua Maros. Uniknya, lukisan itu berupa hashtag alias tagar (#).

1. Lukisan gua kuno berusia 73.000 tahun

BBC (12/9/2018) melaporkan, berjarak beberapa ratus kilometer di sebelah timur Kota Cape Town, terdapat sebuah gua bernama Blombos. Di sana sejak tahun 1990-an, para ilmuwan banyak menemukan tulang, manik-manik kerang dan berbagai artefak purba lainnya.

Walau memiliki banyak artefak, temuan para ilmuwan pada tahun 2011-lah yang paling mencuri perhatian. Temuan itu adalah lukisan gua berupa garis-garis yang saling berpotongan layaknya tagar di sebuah batu. Simbol itu sendiri dikenal dengan nama octothorpe.

Sekilas memang tampak sederhana, tapi ketika diteliti, para ilmuwan menemukan bahwa lukisan di sebuah batu di Gua Blombos itu ternyata berusia 73.000 tahun!

2. Dibuat dengan cara diukir

Para manusia zaman lampau, diketahui membuat tanda pagar purba atau octothorpe itu dengan cara mengukirnya. Mereka mencungkil atau menggores-goreskannya dengan benda yang jauh lebih keras dari permukaan batu.

Sedimen di dalam gua sendiri diketahui telah berusia 100.000 tahun yang artinya ketika itu masih hidup homo sapiens, manusia modern pertama yang menciptakan budaya, seni dan ritual sosial yang kompleks.

Namun, tidak ada cukup petunjuk mengenai tujuan dari manusia kuno membuat hashtag di sebuah batu di dalam gua. Apakah itu sebuah seni sejati atau hanyalah sebuah simbol coretan biasa tanpa makna. Para ilmuwan masih membuka perdebatan tentang itu.

3. Diwarnai dengan krayon

Para ilmuwan Australia itu mengungkapkan, seniman purba itu tidak menggunakan cat untuk mewarnai karya seni mereka. Namun, para ilmuwan menduga para seniman purba itu menggunakan ochre crayon, salah satu jenis krayon kuno.

Sepanjang sejarah peradaban umat manusia, manusia purba sendiri diketahui telah menggunakan ocher, pigmen tanah lempung, setidaknya 285.000 tahun yang lalu untuk berbagai macam keperluan.

Walau temuan ini diklaim sebagai lukisan gua tertua di dunia, tetapi hashtag purba itu bukanlah upaya pertama manusia dalam menggambar.

4. Seni purba tertua di dunia tetap milik Indonesia

Seperti yang dirilis Smithsonian.com, pada tahun 1890 silam, ilmuwan Eugene Dubois menemukan fosil yang dia namai Manusia Jawa (Java Man) di Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Manusia Jawa itu sekarang lebih populer dengan nama ilmiah Pithecanthropus erectus yang hidup 700.000 tahun yang lalu.

Fosil itu merupakan fosil Pithecanthropus erectus pertama yang ditemukan. Tak lama kemudian, Eugene Dubois kembali menemukan fosil manusia purba yang sama di Sangiran, Solo, Jawa Tengah.

Temuan itu lantas mengundang Josephine Joordens, ahli biologi kelautan dan arkeolog di Universitas Leiden, Belanda untuk kembali meneliti koleksi Eugene Dubois, beberapa tahun yang lalu. Hasilnya, dia bersama timnya menemukan tanda-tanda zig-zag pada sebuah cangkang kerang.

Teliti demi teliti, mereka menyimpulkan bahwa goresan zig-zag pada cangkang kerang Dubois merupakan bukti upaya menggambar manusia pertama di dunia yang pernah ditemukan.

Leave a Reply