Gempa Bumi Terus Terjadi Di Mentawai, Sudah 11 Kali

Gempa Bumi

Warga Sumatera Sumtera Barat, terutama yang tinggal di Kepulauan Mentawai dan di sepanjang zona merah, sepertinya memang harus meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, gempa bumi dengan kekuatan bervariasi hingga kini masih terus mengguncang wilayah Kepulauan Mentawai.

Sejak dini hari tadi, Stasiun Geofisika Kelas 1 Silaing Bawah, Kota Padang Panjang, merekam 11 kali aktifitas kegemapaan diwilayah tersebut. Terakhir terjadi pada pukul 17.23 WIB dengan kekuatan 3.2 skala ritcher. Gempa ini berada di kedalaman 28 kilometer di lokasi  2.23 LS,99.39 BT (103 kilometer Tenggara Kepulauan Mentawai).

“Dalam sehari ini sudah 11 kali gempabumi yang mengguncang kepulauan Mentawai, gempa pertama terjadi pada pukul 00:16 WIB dengan kekuatan 4.3. Selanjutnya, diikuti gempa-gempa yang kekuatan dibawah 5 SR, hingga pukul 19:00 WIB, telah terjadi sebanyak 11 kali gempabumi,” kata Rahmat Triyono, Kepala Stasiun Geofisika Kelas 1 Silaing Bawah, Kota Padang Panjang.

Kesebelas gempa bumi tersebut, lanjut Rahmat, berada di sekitar Kepulauan Mentawai, dan dua di antaranya merupakan gempabumi yang dirasakan, yaitu yang terjadi pada pukul 00.16 WIB dengan kekuatan 4.3 SR dan yang terjadi pada pukul 06.46 WIB dengan kekuatan 4.8 SR.

Walau demikian, Rahmat menegaskan kedua gempa tersebut tidak berdampak kepada kerusakan.

“Sampai kini, tidak ada laporan kerusakan,” tambah Rahmat.

Berdasarkan analisa BMKG tambah Rahmat, gempa-gempa yang terjadi di kepulauan Mentawai tersebut diakibatkan oleh aktivitas subduksi lempeng di samudera Hindia sebelah barat kepulauan Mentawai, jalur subduksi lempeng tektonik India-Australia dan Eurasia di Indonesia yang memanjang dari pantai barat Sumatera sampai ke selatan Nusa Tenggara.

Pada sistem subduksi Sumatera, dicirikan dengan menghasilkan rangkaian busur pulau depan (forearch islands) yang non vulkanik (Pulau Simeulue, Nias, Banyak, Batu, Siberut hingga Pulau Enggano).

Lempeng India-Australia kata Rahmat, menunjam ke bawah lempeng Benua Eurasia dengan kecepatan sekitar 50 hingga 60 milimeter per tahun. Hal ini, menunjukkan bahwa wilayah pantai barat Sumatera termasuk daerah yang aktivitas kegempaannya tinggi.

“Meskipun energi gempa yang dilepaskan di kepulauan Mentawai relatif kecil dengan kekuatan dibawah 5 SR, namun hal ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas tektonik diwilayah kepulauan Mentawai,” ujar Rahmat.

Sehubungan dengan peningkatan aktivitas kegempaan pada zona Megathrust Mentawai, Rahmat menghimbau kepada masyarakat agar tidak panik dan tetap meningkatkan kewaspadaan karena gempabumi setiap saat dapat terjadi dan hingga saat ini belum dapat diprediksi.

“BMKG Padang Panjang akan selalu memonitor dan meng-update perkembangan terhadap peningkatan aktivitas kegempaan diwilayah kepulauan Mentawai,” tutur Rahmat.

Leave a Reply