Ganggu Ibadah, Pemerintah Arab Saudi Larang Selfie Di Beberapa Spot

Bertandang ke Tanah Suci dan menunaikan rukun Islam kelima, tentunya merupakan tujuan hakiki setiap Muslim yang pergi umrah dan haji. Dengan berbagai kemajuan teknologi yang seakan-akan memperpendek jarak dan waktu, perjalanan umrah maupun haji jadi lebih terjangkau dan nyaman dibandingkan zaman nenek moyang kita dulu. Namun bagi sebagian besar orang, perjalanan ke Tanah Suci masih menjadi perjalanan seumur hidup yang tak ternilai harganya. Disamping mengantri bertahun-tahun, banyak yang harus menabung seumur hidup untuk mewujudkan perjalanan impian tersebut.

Makanya sebenarnya tidak aneh kalau siapapun yang berkesempatan menunaikan umrah atau haji di Arab Saudi, pasti ingin mengabadikan momen spesial tersebut. Namun kini hal tersebut jadi perdebatan. Seiring dengan menjamurnya penggunaan smartphone, semakin banyak orang yang ber-selfie di tempat-tempat ibadah di Mekkah maupun Madinah. Ternyata banyak pihak yang merasa tren selfie haji maupun umrah tersebut mengganggu kekhusyukkan ibadah. Nggak tanggung-tanggung, pemerintah Arab Saudi bahkan sampai mengeluarkan larangan resmi untuk tidak ber-selfie di tempat-tempat tersebut.

Perdebatan soal selfie di tempat ibadah ini sebenarnya sudah berlangsung beberapa tahun belakangan ini. Kini pemerintah Arab Saudi kembali kirim larangan resmi lewat surat diplomatik

Pada tanggal 12 November 2017 lalu, pemerintah Arab Saudi mengumumkan larangan selfie melalui surat diplomatik yang ditujukan kepada negara sahabat atau negara-negara asal jemaah haji seperti Indonesia. Larangan ini khususnya berlaku di area-area ibadah utama yaitu wilayah Kakbah, Masjidil Haram, dan Masjid Nabawi. Dalam beberapa tahun terakhir, larangan serupa memang sempat diberlakukan dan dicabut kembali sampai pengiriman surat diplomatik kemarin.

Kebijakan ini jelas menuai pro-kontra. Dari hak jemaah untuk mendokumentasikan momen terpenting dalam hidup, tetapi tentu saja kekhusyukkan ibadah tidak boleh terganggu

Kebijakan ini jelas mengundang pro-kontra, baik di dalam negeri Arab Saudi sendiri atau dari kalangan internasional. Disamping menganggu jemaat lain yang mungkin benar-benar ingin secara khusyuk, ber-selfie lalu mengunggah foto-foto ibadah ke berbagai media sosial bahkan oleh beberapa kalangan dianggap merusak prinsip kesederhanaan haji.

Namun jelas banyak juga kalangan yang kontra karena selama ini memang berfoto itu sebenarnya tidak pernah dilarang selama haji. Bahkan tokoh agama Indonesia yang juga pernah menjabat sebagai Ketua MUI, Din Syamsudin, menilai larangan ini kurang tepat. Menurutnya, jemaat seharusnya tetap diperbolehkan mengabadikan peristiwa monumental dalam hidupnya seperti ketika menghadap Kakbah. Namun tentu saja, masih menurut Din Syamsudin, jemaat tidak boleh berlebihan dalam ber-selfie apalagi jika tujuannya hanya untuk sekadar riya’ atau pamer semata.

Larangan soal kegiatan swafoto sebenarnya bukan hanya di Arab Saudi saja lho. Ada beberapa tempat yang melarang selfie juga dengan alasan yang berbeda-beda

Di Garoupe, Prancis, pengunjung yang berlibur ke pantai dilarang keras untuk berfoto apalagi mengunggahnya ke sosial media. Mereka menamakan lingkungan pantai ini sebagai “No Braggies Zone” yang artinya kawasan bebas distraksi yaitu selfie. Garoupe adalah salah satu lingkungan pantai terbaik di Prancis dan pengelolanya ingin agar pengunjung bisa menikmati sepenuhnya liburan mereka tanpa harus repot berselfie dan mengunggah konten yang membuat ‘mereka yang di rumah’ menjadi terganggu.

Selain itu berswafoto juga dilarang di Pamplona, Spanyol saat festival banteng berlangsung. Bukan tanpa alasan, pelarangan ini tujuannya untuk melindungi nyawa manusia. Seringnya orang yang sibuka berswafoto dan mengabadikan moment justru lalai terhadap bahaya yang sedang ia hadapi. Peserta yang mengikuti kegiatan festival banteng ini harus berkonsentrasi penuh untuk menghindari kejaran banteng, jika tidak tentu taruhan nyawa bisa melayang.

Ternyata hal sesepele selfie bisa menimbulkan banyak perdebatan di dunia. Apa yang mungkin kita anggap sebagai hak atau keleluasaan di zaman modern, sebenarnya dapat menganggu orang lain sampai bahkan dinilai merusak nilai ibadah. Sebenarnya sih prinsip utamanya tidak boleh berlebihan dan mempertimbangkan situasi serta kondisi sekitar.

Leave a Reply