Fitur Baru Google Maps Tunjukkan Bentuk Bumi Itu Bulat

Bumi Itu Bulat

Belakangan, publik terbagi dua; percaya bahwa Bumi itu bulat dan percaya bahwa Bumi itu datar. Tentu saja, penganut keyakinan bahwa Bumi itu datar menjadi kontroversial karena pengetahuan publik selama ini menyatakan Bumi itu bulat.

Namun, terbaru seperti dilansir The Verge, Minggu (5/8/2018), Google memberi bukti bahwa Bumi memang bulat–bukan datar. Hal itu ditunjukkan melalui pembaruan termutakhir Google Maps.

Jadi, ketika Anda memperbesar semuanya, Bumi akan ditampilkan sebagai bola dunia–bukan “proyeksi Mercator” datar seperti sebelumnya. Pembaruan tersebut diberi nama mode 3D Globe.

Proyeksi dalam bentuk datar memang tidak akurat menggambarkan area wilayah yang jauh dari khatulistiwa. Misalnya, Greenland tampak hampir sama dengan ukuran Afrika meskipun sebenarnya jauh lebih kecil dibanding benua lain.

Lewat Twitter, Google pun mengatakan mode tersebut memperbaiki masalah itu.

“Dengan Mode 3D Globe untuk Google Maps via desktop, Greenland dengan luas 836.300 mil persegi tidak lagi sebesar Afrika dengan 11,73 juta mil persegi. Pengguna cukup melakukan zoom out sampai maksimal,” kata Google dikutip Livemint (6/8).

Alasan mengapa luas dua daratan ini terlihat relatif sama dalam skala peta 2D adalah demi kompensasi bentuk lingkaran Bumi. Padahal di dunia nyata, Greenland memang lebih kecil dibanding Afrika.

Globe 3D pun menegaskan hal itu. Namun, Google Maps belum tentu absolut pula. Apalagi, menurut Mashable, peta Apple masih menunjukkan bahwa dunia itu datar.

Google Maps pun saat ini masih menggunakan proyeksi Mercator yang memproyeksikan planet ke permukaan datar. Sementara model 3D memudahkan pencetakan ke peta dan sebagian besar telah distandarisasi.

Objek di sekitar khatulistiwa memiliki skala relatif terhadap satu sama lain, sementara objek yang lebih dekat ke kutub tampak lebih besar dari yang sebenarnya. Contoh bagusnya adalah ukuran relatif Greenland dan Afrika tadi.

Pada peta Mercator, skala ukuran menjadi tak standar. Greenland, misalnya, lebih besar dari Afrika meski kenyataannya sebaliknya. Bahkan; Kanada, Alaska, Swedia, Norwegia, dan Finlandia terlihat lebih besar dari sebenarnya.

Dalam forum Google, karyawan Google menjelaskan bahwa Mercator dipakai untuk membantu mempertahankan sudut jalan sehingga garis lintang di tempat-tempat tinggi bertemu pada satu sudut di peta.

Uniknya, Google Maps generasi pertama sebenarnya tidak menggunakan Mercator dan jalan-jalan di tempat-tempat berlintang tinggi seperti Stockholm (Swedia) tidak bertemu pada sudut kanan di peta–seperti yang mereka lakukan dalam kenyataan.

Yang jelas, penambahan fitur semacam ini merupakan upaya Google untuk memperlihatkan wujud dunia yang lebih akurat kepada penggunanya. Upaya yang sama juga dilakukan Google pada layanan Google Earth walau ini sudah menggunakan proyeksi dunia–bukan Mercator.

Di sisi lain, tidak semua pengguna senang pada pembaruan ini. Sebagian dari mereka yang kecewa adalah para pendukung teori bumi datar.

Mereka sudah terlanjur percaya bahwa planet Bumi dikelilingi oleh dinding es dan tidak ada gravitasi. Lebih lanjut mereka menyebutkan bahwa mode Globe merupakan teknik pemetaan yang salah.

“Dari sudut pandang Bumi datar, ini merupakan perubahan dari satu proyeksi yang tidak akurat (Mercator) ke yang lainnya (globe),” kata Social Media Manager Flat Earth Society, Pete Svarrior, dikutip CNET.

“Google Maps adalah produk yang mencoba memenuhi keinginan konsumennya. Banyak orang yang percaya bahwa Bumi berbentuk bulat,” tutupnya.

Model 3D Globe untuk Google Maps baru tersedia dalam versi desktop. Sama seperti Google Earth, inovasi itu merupakan bagian dari usaha Google untuk menunjukkan representasi Bumi yang lebih akurat.

Leave a Reply