Erupsi Pada Gunung Agung Menjadi Freatomagmatik, Apa Maksudnya?

Status bencana erupsi Gunung Agung sudah menjadi level IV (awas). Apakah letusan besar Gunung Agung akan segera terjadi?

Senin (27/11/2017), Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho berkata bahwa intensitas suara dentuman lemah terdengar sampai jarak 12 kilometer, dan kadang disertai erupsi eksplosif. Lalu, sinar api juga semakin sering teramati dari puncak gunung.

Hal-hal ini, ujar Sutopo, menjadi penanda potensi letusan yang lebih besar akan segera terjadi.

Kepala Bidang Mitigasi PVMBG, I Gede Suantika turut menambahkan bahwa perubahan tipe erupsi freatik (letusan gas asap dan material) berubah menjadi fase magmatik sebagai pertimbangan utama mengapa status dinaikan. Fase magmatik adalah erupsi magma yang menghasilkan produk magma seperti abu atau lava.

“Terhitung sejak hari ini, Senin 27 November 2017 pukul 06.00 WITA, status Gunung Agung dinaikkan dari level III (siaga) menjadi level IV (awas),” kata Suantika.

Terkait hal ini, ahli geologi dari Universitas Denison, Amerika, Erik Klemmeti, menjelaskan perbedaan dasar dari tipe freatik dan freatomagmatik.

“Tipe freatik ini tidak melibatkan banyak air, dan bila terdengar suara ledakan itu penanda adanya aktivitas baru di dalam gunung tersebut,” katanya dikutip dari Wired pada Jumat,(11/11/2011).

“(Sementara itu), dalam tipe erupsi freatomagmatik, biasanya magma yang meletus bersentuhan langsung dengan air di danau kawah, atau bisa dari salju atau es, mungkin juga air laut,” ujarnya.

Perbedaan suhu antara magma dan air ini sangat besar dan terkadang bisa sampai di atas 1100°C yang menyebabkan ledakan air dan magma.

“Proses tersebut adalah fragmentasi, dan biasanya disertai abu yang diproduksi selama letusan terjadi. Ini berarti bisa jadi akan ada aliran lahar dan letusan eksplosif yang besar,” sambungnya.

Meski demikian, tidak ada yang bisa memastikan kapan ledakan tersebut akan terjadi. Hal yang bisa dilakukan adalah melakukan pengamatan detail dan intensif terkait tanda-tandanya.

Untuk itu, BNPB mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Agung untuk tidak beraktivitas di sekitar gunung, termasuk wisatawan, dalam radius delapan kilometer dari kawah gunung.

Lalu, perluasan sektoral sejauh 10 kilometer ke arah utara, timur laut, tenggara, selatan dan barat daya juga perlu dilakukan.

“Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual,” kata Sutopo.

Leave a Reply