Dikembangkan Di Inggris, Mengapa Juara Dunia Bulutangkis Selalu Dari Asia?

Bulutangkis

Mengapa Bulutangkis begitu didominasi oleh orang-orang Asia? Mungkinkah karena pemain-pemain dari Cina, Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan lebih terampil atau karena kuatnya faktor genetik.

Sindiran sinis mengatakan bahwa olahraga ini cenderung tidak menguntungkan dari segi ekonomis, menyebabkan orang Eropa dan Amerika cenderung tidak menekuninya sepenuh hati, beda dengan basket, sepak bola, bisbol, atau tenis.

Meski demikian, bukan berarti bahwa dunia barat sama sekali tidak peduli dengan bulutangkis. Contohnya Denmark dan Inggris, yang terbukti mampu melahirkan deretan nama pemain kelas dunia.

Pelatih kawakan asal Indonesia, Rizqi Budi Raharjo memiliki argumennya sendiri mengenai supremasi yang direngkuh oleh Asia ini. Menurutnya disiplin merupakan kuncinya dan akademi-akademi di Asia sangat menekankan hal ini.

Ia mencontohkan pelatih nasional India, Pullela Gopichand dan mengatakan bahwa Gopi sangat disiplin dalam menerapkan metode pelatihannya.
“Gopichand adalah contoh pelatih yang baik karena dia mendisiplinkan pemainnya dan sangat keras dengan mereka. Tanpa kedisiplinan, pemain tidak akan bisa meraih cita-cita tertingginya.

Indonesia, yang terkenal sebagai salah satu negara terkemuka bulutangkis akhir-akhir ini prestasinya cenderung menukik karena kurangnya kedisiplinan para pemainnya, sementara negara-negara lain seperti Cina, Korea dan Jepang kelihatan meningkat pesat karena para pemainnya sangat disiplin,” kata Rizqi, yang merupakan pelatih kepala di Prakash Padukone Badminton Academy (PPBA), dan masa kontraknya diberitakan akan berakhir bulan Maret.

“Denmark dan Inggris sudah mulai memudar karena mereka tidak menunjukkan tingkat komitmen seperti yang mereka lakukan beberapa tahun yang lalu,” tambahnya.

Rekan senegara yang juga merupakan teman Rizqi, yaitu Rexy Mainaky, sepakat dengan apa yang diutarakan Rizqi.

Mantan juara Olimpiade dan juara dunia yang sekarang menjadi pelatih kepala tim Filipina, Rexy Mainaky tahu pasti apa yang dikatakannya karena dia pernah menjadi pelatih Inggris selama lima tahun.

“Rexy memberitahu saya bahwa budaya di Eropa adalah sedemikian rupa sehingga pemain tidak terlalu disiplin, padahal untuk olahraga berat seperti bulutangkis membutuhkan fokus sepenuhnya sepanjang karir Anda jika Anda benar-benar mengejar prestasi.”

Jika semuanya berjalan dengan baik, Rizqi dan Rexy akan kembali melatih di Indonesia. Keduanya telah dihubungi oleh federasi nasional mereka (PBSI) untuk mendiskusikan mengenai rencana ke depannya nanti.

Ketika ditanya masalah apa saja yang dihadapi perbulutangkisan India, pria berumur 39 tahun yang pernah melatih beberapa juara nasional seperti Anup Sridhar, Arvind Bhatt dan Sayali Gokhale ini mengatakan, “Masalahnya adalah kurangnya motivasi pemain. Anak-anak di sini malas, hanya sedikit yang ingin menjadi pemenang. Para pelatih harus memotivasi mereka untuk berlatih keras, membentuk stamina dan meningkatkan kebugaran fisik mereka.”

Mengenai calon bintang dari India, Rizqi menjagokan Kidambi Srikanth dan Sindhu Pusarla Venkata
“Srikanth memiliki prospek yang cerah. Sindhu baru berumur 18 tahun dan memiliki postur dan skill yang sesuai. Dilihat dari sisi skill, dia lebih baik dari Saina Nehwal, namun dari sisi mental dia belum sekuat Saina. Saina tidak pernah takut dengan lawannya, tidak peduli apakah dia sedang berhadapan dengan pemain Cina atau Jepang. Sindhu akan semakin baik seiring berjalannya waktu,” kata Rizqi, yang juga sempat melatih di Pakistan dalam beberapa bulan terakhir.

Mengenai peluang India di Kejuaraan Dunia 2013 dan Olimpiade Rio 2016, Rizqi melihat bahwa Saina dan perempatfinalis Olimpiade London Kashyap Parupalli memiliki peluang yang realistis.
“Saina paling berpeluang. Jika Saina dapat mempertahankan permainannya sampai Rio, dia bisa saja meraih medali emas. Usianya juga masih memungkinkan. Jangan lupakan Sindhu.”

Trus, siapa yang dinilainya sebagai pemain terbaik dunia?
“Lin Dan adalah salah satunya. Ia memiliki pukulan smes yang akurat dan cukup cerdas. Dia memiliki rencana permainan yang jelas. Ia tahu persis apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu. Lee Chong Wei kadang-kadang terlalu defensif. Pilihan saya jatuh kepada Taufik Hidayat. Dia masih yang terbaik dari sisi skill, lebih baik dari Lee maupun Lin meskipun saat ini sudah ‘termakan usia’.”

Leave a Reply