Dianggap Rasis, L’Oreal Melepas Duta Berhijab Mereka

Amena Khan

Pada 19 Januari 2018, L’Oreal dikabarkan menggaet seorang perempuan berhijab untuk menjadi duta salah satu produk rambutnya. Hal ini sempat mencetak sejarah, sebab untuk pertama kalinya raksasa kosmetik itu mendapuk duta berhijab untuk iklan produk rambut.

Perempuan tersebut bernama Amena Khan, seorang naravlog di Inggris Raya yang populer dengan nama Pearl Daisy.

Namun, tak sampai satu bulan, Amena Khan terpaksa harus mengundurkan diri dari jabatan sebagai duta rangkaian produk rambut keluaran jenama Elvive tersebut.

Khan mengakhiri kontraknya dengan L’Oreal Paris begitu cepat, sebab dirinya tersandung isu soal anti-Israel. Ya, beberapa saat setelah L’Oreal mengumumkan ia sebagai duta sampo Elvive, cuitan lama Twitter-nya yang berasal dari tahun 2014 naik ke permukaan.

Perempuan yang berhijab sejak usia 20 ini pernah melayangkan beberapa cuitan bernada politik soal konflik Israel-Palestina di Twitter. Ia menyebutkan bahwa para pemeluk berbagai agama bisa hidup tenang di Palestina sebelum adanya Israel.

Ia pun menyebut Israel dengan kata “teroris” dan “ilegal”.

Amena Khan
Amena Khan

Lalu pada Selasa (23/1/2018) lewat sebuah unggahan di Instagram pribadinya, Khan mengumumkan pengunduran dirinya sebagai duta L’Oreal.

“Saya sangat menyesal atas apa yang saya tulis di Twitter pada 2014, dan sangat meminta maaf untuk kekecewaan dan rasa sakit yang ditimbulkan,” tulisnya.

“Memenangkan keberagaman adalah salah satu keinginan saya, saya tidak mendiskriminasikan siapapun. Saya pun telah memutuskan untuk menghapusnya karena tak merepresentasikan pesan tentang keharmonisan yang saya anut,” lanjutnya lagi.

Setelah itu, Khan menghapus seluruh foto dan video yang berupa kampanye kerjasama dirinya dengan L’Oreal.

Ia juga mengungkapkan bahwa cuitan yang dimaksud tak berbuah positif dan justru menyentil sebagian orang yang sedang dalam situasi yang cukup sensitif. Karena hal tersebut pula dirinya akhirnya memutuskan untuk mengalah dan mengakhiri kontraknya dengan L’Oreal.

Keputusan tersebut juga memupuskan kesempatannya untuk dapat bersanding dengan pesohor sekelas Jennifer Lopez dan Karlie Kloss.

Menanggapi hal ini, seorang juru bicara L’Oreal dalam wawancaranya dengan BBC sempat mengutarakan beberapa hal. Salah satunya ialah bahwa pihak L’Oreal sangat menyadari bahwa cuitan Twitter tersebut telah lama berlalu.

“Kami sangat menghargai permintaan maaf Amena Khan atas apa yang ditulisnya di Twitter dan kekecewaan beberapa pihak yang disebabkan olehnya. L’Oreal Paris telah berkomitmen untuk selalu mentoleransi dan menghargai seluruh umat manusia. Kami menyetujui keputusannya untuk mengundurkan diri dari kampanye ini.”

Menurut ulasan Huffington Post, ini bukan kali pertama bagi L’Oreal untuk merelakan dutanya pergi. Sekitar Agustus lalu, perusahaan kosmetik asal Prancis ini memutuskan kontrak kerja dengan Munroe Bergdorf, model transgender pertama yang membintangi iklan L’Oreal.

Masalahnya sama, Bergdorf diketahui pernah menyampaikan opininya mengenai isu rasisme di Amerika Serikat.

Berbanding terbalik dengan yang dialami Gal Gadot. Pemain film Wonder Woman ini diketahui kerap membela tanah airnya, Israel. Beberapa negara seperti Lebanon, Yordania, dan Tunisia pun lantas memboikotnya.

Namun, hal tersebut tak lantas membuatnya gentar dan menyerah. Sosoknya sebagai duta produk kosmetik pun tak pernah dikaitkan dengan pilihan politiknya.

Tak heran kejadian ini membuat L’Oreal kerap dibandingkan dengan beberapa perusahaan raksasa lainnya yang bereaksi berbeda. Selain Revlon, ada juga Mattel hingga Nike yang belakangan juga gencar menggaet sosok perempuan Muslim sebagai ikon keberagaman yang sedang ingin ditampilkan.

Bedanya, mereka dapat lebih menerima perbedaan pendapat serta pandangan politik dari semua pihak yang bekerja sama.

Ruqaya Izzidien, seorang penulis keturunan Irak berkewarganegaraan Inggris, dalam opininya di situs Aljazeera, menyayangkan keputusan L’Oreal untuk melepas Khan begitu saja hanya karena pandangan politiknya yang berbeda.

“Jika sebuah perusahaan berniat untuk menghargai perbedaan dalam sebuah masyarakat, maka ia harus menerima bahwa orang dengan pengalaman hidup yang berbeda akan memiliki pandangan berbeda pula,” tulis Izzidien.

Ia juga menyatakan bahwa isi tweet Khan menanggapi perang yang terjadi antara kelompok Hamas dengan tentara Israel di Gaza pada tahun 2014 itu terbilang “sopan” dibandingkan kicauan beberapa artis lain yang membela Israel saat itu.

Perang yang berlangsung selama 50 hari sejak Juli 2014 tersebut, mengutip The Independent, menewaskan 2.139 warga Palestina, termasuk 490 anak-anak. Sementara di pihak Israel, 64 tentara tewas, juga 6 warga sipil dan seorang anak.

Leave a Reply