Black Panther Menjadi Film Pertama di Bioskop Arab Saudi

Black Panther

Ruangan berubah menjadi gelap, kerumunan pria serta wanita kompak bertepuk tangan serta berteriak pada Rabu malam ketika film laris Hollywood “Black Panther” tayang perdana di bioskop pertama di Arab Saudi.

Meski pemutaran perdana tersebut hanya untuk undangan pribadi, bagi sebagian warga Arab Saudi itu menandai salah satu momen perubahan paling jelas bagi negara tersebut dalam beberapa dekade terakhir.

Seperti dilansir Time.com, Kamis (19/4/3018), bioskop dan film Black Panther terlihat sebagai bagian dari era baru Arab Saudi. Bukan hanya bioskop, perempuan Arab Saudi juga akan segera diizinkan untuk berkendaraan dan orang-orang di negara kerajaan tersebut akan dapat pergi ke konser dan pertunjukan mode, dan memakan popcorn dalam bioskop.

“Ini merupakan era baru, zaman baru. Sesederhana itu. Segala sesuatunya berubah, kemajuan sedang terjadi. Kami membuka dan kami mengejar semua hal yang terjadi di dunia,” ujar Rahaf Alhendi, salah satu undangan yang datang ke pemutaran perdana film di bioskop.

Pihak berwenang juga mengatakan bahwa publik dapat membeli tiket secara online pada Kamis untuk pertunjukan yang dimulai Jumat. Namun, mungkin akan ada penundaan.

Segala film yang diputar di bioskop Arab Saudi tetap harus tunduk pada persetujuan sensor pemerintah, dan pemutaran perdana pada Rabu malam kemarin tidak terkecuali. Adegan kekerasan tidak dipotong, namun adegan terakhir yang melibatkan ciuman harus dihapus.

Meski begitu, bagaimanapun bioskop merupakan sebuah langkah baru bagi negara tersebut. Pada 1980-an, saat gelombang ultrakonservatisme menyapu Arab Saudi, mereka langsung melarang seluruh pertunjukkan dalam sinema.

Pada masa itu, ada banyak ulama Saudi melihat film-film Barat dan bahkan film-film Arab yang dibuat di Mesir dan Lebanon sebagai sebuah dosa.

Putra Mahkota Muhammad bin Salman adalah yang mendorong berbagai reformasi sosial besar dengan dukungan dari ayahnya, Raja Salman, demi memuaskan keinginan mayoritas penduduk muda di negara tersebut.

“Ini merupakan hari yang sangat bersejarah bagi negara Anda,” ucap Adam Aron, CEO AMC Entertainment, mengatakan kepada penonton bertepatan dengan pemutaran film Black Panther.

“Sudah sekitar 37 tahun Anda tidak bisa menonton film di teater, bersama-sama, di layar besar.”

AMC yang merupakan perusahaan berbasis di Amerika Serikat, dan salah satu operator bioskop terbesar di dunia, dua minggu sebelumnya telah menandatangani kesepakatan dengan Pangeran Muhammad untuk mengoperasikan bioskop pertama di kerajaan. AMC dan mitra lokalnya langsung bergerak dengan cepat untuk mengubah ruang konser di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, menjadi kompleks bioskop untuk pemutaran Rabu.

Aron mengatakan perusahaan memiliki rencana untuk mengubah kursi-kursi bergaya konser saat ini dan menggantikannya dengan sandaran yang terbuat kulit mewah serta membangun tiga layar lagi di tempat itu agar bisa menampung hingga 5.000 warga Arab Saudi untuk menonton film.

AMC saat ini bermitra dengan anak perusahaan dari dana kekayaan negara Arab Saudi, yang dikenal sebagai Dana Investasi Publik, selama lima tahun ke depan mereka berencana untuk membangun hingga 40 bioskop AMC di seluruh negeri.

Samer Alsourani, yang melakukan perjalanan dari Provinsi Timur Arab Saudi untuk acara tersebut. Dia memberikan pujian untuk putra mahkota karena menepati janjinya untuk memodernisasi negara.

“Ini adalah pertama kalinya kami benar-benar melihat sesuatu yang benar-benar terwujud,” katanya.

Reformasi sosial yang dilakukan oleh pewaris tahta berusia 32 tahun tersebut merupakan salah satu bagian dari apa yang disebut Visi 2030, sebuah Blue Print Arab Saudi yang memiliki tujuan untuk meningkatkan belanja lokal dan menciptakan lapangan kerja di tengah harga minyak yang terus menurun.

Pemerintah Arab Saudi memprediksi, pembukaan bioskop akan menyumbang lebih dari 90 miliar riyal atau sekitar US$ 24 miliar bagi perekonomian dan menciptakan lebih dari 30.000 pekerjaan pada tahun 2030. Kerajaan itu mengatakan akan ada 300 bioskop dengan sekitar 2.000 layar yang dibangun pada tahun 2030.

Arab Saudi sudah mulai secara bertahap melonggarkan pembatasan pada pemutaran film dalam beberapa tahun terakhir, seperti menggelar festival film lokal dan pemutaran di bioskop darurat. Meski begitu, sampai saat ini, sebagian besar warga Arab Saudi yang ingin menonton film di bioskop harus mengemudi ke Bahrain atau Uni Emirat Arab pada akhir pekan untuk menyambangi bioskop.

Pada tahun 1970-an, ada sangat banyak pemutaran film informal. Namun mereka sering dihentikan oleh polisi agama negara tersebut.

Jamal Khashoggi, seorang penulis Arab Saudi, menggambarkan bioskop pada tahun 1970-an sebagai “drive-in Amerika, tapi jauh lebih informal.”

Dalam sebuah opini untuk The Washington Post, ia menulis bahwa seorang temannya yang sedang asyik menonton bioskop ‘ilegal’ harus mengalami patah kaki di Madinah. Pada saat itu, dia melompat dari tembok untuk melarikan diri dari polisi agama dan menghindari penangkapan

Pada tahun 1980-an, pemutaran film sebagian besar dilarang kecuali jika terjadi di kompleks perumahan pribadi untuk orang asing atau di pusat-pusat budaya yang dikelola oleh kedutaan asing.

Akses menuju layanan streaming, seperti Netflix, dan TV satelit dengan mantap mengendorkan upaya pemerintah untuk menyensor apa yang bisa dilihat oleh publik Saudi. Pada tahun 2013, film “Wadjda” membuat sejarah dengan menjadi film pembuka Academy Award pertama untuk Arab Saudi, meski tidak dinominasikan untuk Oscar.

Agar tetap mematuhi norma-norma kerajaan tentang pemisahan gender, pemutaran film tertentu dapat dilakukan. Ada yang untuk keluarga atau ada yang khusus penonton pria.

Tetapi, secara umum, kedepannya bioskop Arab Saudi yang baru nanti tidak akan dipisahkan menurut gender, tapi akan dipisah seperti “khusus keluarga” di mana wanita dan pria yang masih jadi muhrimnya bisa duduk di situ.

Selain itu ada bagian ‘single section’, yang dikhususkan untuk para pria.

Pemisahan tersebut berlaku bukan hanya di bioskop, tetapi juga berlaku di restoran dan kafe.

Awwad Alawwad, Menteri Kebudayaan dan Informasi Saudi mengatakan kepada The Associated Pressbahwa bahwa pemerintah bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara aturan dalam Islam dan pengalaman yang didapat masyarakat.

“Kami ingin memastikan film-film tersebut sesuai dengan budaya kami dan menghormati nilai-nilai. Sementara itu, kami ingin memberikan pertunjukan yang indah kepada orang-orang, agar mereka dapat menikmati menonton film,” katanya.

Bioskop baru juga dilengkapi dengan ruangan untuk mengakomodasi kebutuhan beribadah umat muslim.

Leave a Reply