Anak-Anak Jepang Menjadi Lebih Cepat Tua Karena Stres

Jepang

Shukan Josei, sebuah majalah kesehatan Jepang, dalam editorialnya menuliskan bahwa anak-anak di Negeri Sakura saat ini lebih cepat tua daripada usianya.

Anak-anak yang menua tersebut masih berusia SD. Belum mencapai remaja, tetapi tubuh para bocah ini sudah seperti para lansia, seperti bahu kaku, punggung sakit, penglihatan melemah, dan rambut menipis.

Seperti dilansir Japan Today, majalah tersebut menyebutkan dua pemicu utama mengapa anak-anak itu menjadi seperti lansia. Yakni, randoseru dan ponsel cerdas.

Randoseru berasal dari kata ransel yang berarti tas punggung. Jepang mengadopsi kata itu sekitar 200 tahun yang lalu, dan itu merupakan tas sekolah standar di antara anak-anak sekolah dasar Jepang sejak pendidikan dasar menjadi wajib pada tahun 1885.

Tas ransel anak-anak tersebut berat. Isinya adalah buku-buku teks yang semakin banyak sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berkembang. Buku-buku anak-anak Jepang saat ini sekitar 34 persen lebih berat jika dibandingkan dengan tahun 2005.

Setelah itu karena adanya smartphone di mana-mana. Anak-anak cenderung membungkuk sambil berjalan memandangi ponsel tersebut.

Jika Anda berjalan dengan leher membungkuk ke depan pada sudut 45 derajat, kepala Anda, yang beratnya 4 hingga 5 kg, menjadi beban yang setara dengan 20 kg, ujar ahli ortopedi Tokyo, Masayuki Sasaki.

“Berjalan ke dan dari sekolah dengan beban akademis di punggung Anda dan layar smartphone yang menarik leher Anda ke depan bukanlah sesuatu yang harus dilakukan oleh tubuh manusia,” kata Sasaki.

“Akibatnya, banyak pasien cilik yang datang ke saya dengan keluhan otot tegang, nyeri punggung dan gangguan sirkulasi darah,” lanjutnya.

Beban bukan hanya fisik. Chiropractor Eiji Yamanaka melihat elemen psikologis juga.

“Menurut saya, berdasarkann pasien saya sendiri, bahwa anak-anak sekarang lebih percaya diri daripada biasanya,” kata Yamanaka.

“Tetapi ada yang lebih dari yang lain, dan lebih pendiam. Anak-anak ini rajin belajar. Tapi mereka semua tidak alami, karena secara emosional mereka terluka,” ucapnya lagi.

“Banyak anak-anak yang menderita sakit punggung adalah anak-anak yang serius,” kata Yamanaka.

“Sistem saraf mereka tampaknya merespons segala sesuatu – harapan orang tua, harapan guru, kedudukan mereka di antara teman-teman,” simpul Yamanaka, terkait keadaan anak-anak Jepang yang tua sebelum umurnya itu.

Bukan hanya punggung, peningkatan kebotakan dini dan pandangan memburuk juga terjadi pada anak-anak Jepang.

“Cara anak-anak zaman sekarang bermain tidak baik untuk mata,” ujar Dokter Mata Sachi Amaki.

“Mereka sebagian besar beraktivitas di dalam ruangan, dan kebanyakan online, yang berarti mengintip di layar.”

“Melihat ke masa lalu, anak-anak bermain menangkap. Ketika melempar bola mereka melihat jauh. Ketika menangkapnya mereka terlihat dekat. Itu adalah keseimbangan yang bagus,” ucap Dokter Amaki

Menurut Amaki, maksimal penggunakan ponsel cerdas sehari adalah dua jam.

“Itu yang paling maksimal untuk mata anak-anak,” ucapnya.

Shukan Josei mengutip catatan survei pemerintah, rata-rata pemakaian ponsel sehari-hari di antara anak-anak Jepang adalah dua setengah jam.

Selain karena beratnya tas, kecanduan ponsel, ada yang lain juga yang membuat psikologi anak-anak Jepang menjadi rentan. Murid-murid sekolah menengah Jepang sangat takut pada tanggal 1 September.

Banyak siswa di sekolah-sekolah Jepang melakukan bunuh diri setiap tanggal 1 September dibanding hari lainnya. Menurut kantor kabinet Jepang, 1 September merupakan hari ‘bersejarah’ karena jumlah anak di usia di bawah 18 tahun melakukan bunuh diri.

Berdasarkan catatan, dari tahun 1972 hingga 2013, ada 18.048 kasus bunuh diri pada anak-anak usia sekolah di Jepang. Atau kalau di rata-ratakan, 31 Agustus ada 92 kasus bunuh diri, 1 September ada 131 anak bunuh diri, dan 2 September ada 94 kasus.

Angka tertinggi juga didapati di bulan April, saat semester pertama tahun ajaran sekolah Jepang dimulai.

Leave a Reply