Akan Beralih Menjadi Pelatih, Cristian Gonzales Belum Mau Pensiun

Cristian Gonzales

Cristian Gonzales tengah mempersiapkan diri untuk beralih menjadi pelatih. Pemain 41 tahun itu saat ini sedang menikmati kursus lisensi C AFC.

Gonzales sedang menjalani kursus lisensi kepelatihan C AFC, yang digelar oleh PSSI 5-17 Februari di Sawangan. Selain dia, ada beberapa eks pemain timnas yang ikut serta di antaranya Ferry Rostinsulu, Muhammad Nasuha, Taufiq Kasrun, Nasrul Koto, dan Berti Tutuarima.

Gonzales mengungkapkan bahwa keinginannya untuk mengikuti kursus kepelatihan sudah ada sejak lama. Tetapi padatnya jadwal kompetisi membuatnya harus terus menunda.

“Ya, sampai sekarang Alhamdulillah lancar, ini adalah pengalaman baru untuk karier saya,” ujar striker Madura United itu, Rabu (7/2/2018).

Sudah usia kepala empat, Gonzales menyadari tak bisa terus-terusan berkarier sebagai pesepakbola sehingga perlu memikirkan jalur lain. Dia juga ingin menyumbangkan ilmu untuk sepakbola Indonesia.

“Saya datang ke sini untuk mencoba bagaimana beralih karier sebagai pelatih karena saya sampai sekarang masih aktif di sepakbola,” sambungnya.

“Saya sekarang tiba di sini untuk mungkin bisa berubah ke depan. Setelah pensiun dari bola dan konsentrasi sebagai pelatih, jadi saya datang ke sini untuk sekaligus belajar sedikit sebagai pelatih,” dia menambahkan.

PSSI sebelumnya menjadikan Gonzales pendamping di tim pelatih timnas U-19, untuk membantu Bima Sakti yang merupakan pelatih kepala. Gonzales dinilai bisa menjadi panutan untuk para pemain muda khususnya para penyerang.

Meski Sedang Kursus Kepelatihan, Gonzales Belum Akan Pensiun

Cristian Gonzales sedang menempuh kursus kepelatihan C AFC. Meski demikian, dia masih belum berencana untuk menggantung sepatu.

Berlangsung di Sawangan, Depok, Jawa Barat, kursus yang diikuti oleh Gonzales berlangsung dari tanggal 5-17 Februari 2018. Selain Gonzales, ada beberapa eks pemain lainnya.

Keputusan Gonzales mengambil lisensi kepelatihan tersebut bukan karena dia ingin segera pensiun. Stiker 41 tahun itu saat ini masih merupakan pemain Madura United.

“Wah tidak, itu tergantung Allah,” ujar Gonzales ketika ditanya soal pensiun oleh pewarta.

Beberapa waktu lalu, PSSI sudah menunjuk Gonzales sebagai pendamping Bima Sakti di jajaran staf pelatih timnas Indonesia U-19. Ternyata, hal itu bukan alasan utama eks pemain Arema itu menempuh kursus kepelatihan.

“Ya itu saya Alhamdulillah. PSSI masih percaya sama saya untuk bisa ambil U-19. Tapi bukan tujuan saya untuk datang jadi pelatih karena saya dulu tidak terlalu tertarik untuk bisa jadi pelatih, tetapi karena sekarang kesempatan datang untuk masa depan dan saya mulai mencoba,” dia menegaskan.

Cristian Gonzales Ambil Kursus Lisensi Kepelatihan AFC

Striker veteran Madura United, Cristian Gonzales, mengikuti kursus lisensi kepelatihan C AFC yang diselenggarakan oleh PSSI, di Sawangan, 5-17 Februari. Pria 41 tahun itu memang sudah harus serius berpikir untuk menjadi pelatih.

PSSI sempat mempertimbangkan Gonzales untuk masuk dalam jajaran tim kepelatihan timnas Indonesia U-19, untuk mendampingi Bima Sakti. Hal itu sempat dilontarkan oleh ketua umum PSSI, Edy Rahmayadi, beberapa waktu lalu.

Fokus Gonzales untuk musim ini memang masih dalam tanda tanya, meski ia sudah resmi gabung Madura United. Gonzales sempat menyatakan bahwa dirinya masih kuat dan siap untuk aktif bermain di kompetisi, meski tak muda lagi.

Selain Gonzales, beberapa mantan pemain dan pemain yang masih aktif juga ikut dalam kursus kepelatihan C AFC periode ini. Mereka antara lain Ferry Rostinsulu, Muhammad Nasuha, Taufiq Kasrun, Nasrul Koto dan Berti Tutuarima.

“Tahun ini PSSI menggelar banyak kursus pelatih dibanding tahun 2017. Kami berharap semakin banyak jumlah pelatih dengan lisensi AFC. Ini menjadi hal yang positif terkait pengembangan sepakbola Indonesia,” kata Danurwindo, direktur teknik PSSI.

Para calon pelatih sudah mulai ditularkan filosofi sepakbola Indonesia (filanesia) yang bakal jadi pedoman penting permainan sepakbola Indonesia. Danur mengakui ada beberapa kekurangan dari para calon pelatih untuk memelajari kurikulum kepelatihan.

“Filanesia memiliki panduan yang jelas. Sepanjang kursus yang saya lihat sebenarnya para pelatih di Indonesia sangat bagus dan berpotensi, namun ada juga kekurangan dari mereka seperti pengusaan bahasa Inggris,” pungkas Danur.

Leave a Reply