4 Kepribadian Ini Ungkap Bagaimana Cara Pandang Terhadap Uang

kepribadian

Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda. Tidak ada orang yang bisa memaksa orang lain untuk memiliki kepribadian yang sama dengannya. Perbedaan dalam kepribadian yang dapat memungkinkan adanya interaksi tolong-menolong antarmanusia.

Hal tersebut karena pada dasarnya setiap orang memandang sebuah objek dengan persepsinya masing-masing, termasuk jika objek tersebut adalah uang.

Mungkin Anda akan merasa asing dengan topik ini. Akan tetapi, topik ini sangat menarik untuk dibahas. Berdasarkan cara memandang uang, terdapat empat jenis kepribadian yang diungkapkan psikolog keuangan Dr. Brad Klontz.

Ia bersama timnya juga memberikan ciri-ciri pemikiran orang yang memiliki kepribadian tersebut. Berikut merupakan penjelasannya.

1. Money Avoidant: Si Penghindar Uang yang Cenderung Boros

Si penghindar uang atau money avoidant adalah julukan bagi mereka yang boros. Biasanya orang-orang yang memiliki karakter ini sangat mudah dalam mengeluarkan uang. Karakter ini beranggapan bahwa uang yang dimilikinya terlampau banyak.

Hal inilah yang mendorongnya untuk terus-menerus melakukan pengeluaran dengan berbelanja dan membeli hal-hal yang sama sekali tidak mereka perlukan. Dengan demikian, tidak heran jika di kediaman mereka banyak benda-benda yang mereka beli menumpuk karena tidak terpakai. Wajar, mereka membeli hal-hal yang memang entah apa tujuannya.

Selain itu, mereka juga berpikir bahwa setiap orang kaya adalah tamak. Bukan hanya itu. Mereka juga cenderung berpikir bahwa orang-orang yang kini kaya adalah orang yang dulunya suka memanfaatkan orang lain untuk kepentingan mereka sendiri. Parahnya lagi, mereka sering mengabaikan laporan keuangan mereka dari pihak bank.

2.Money Worshipper: Si Pemuja Uang yang Sayang dengan Uangnya

Seperti namanya, money worshipper cenderung mendewakan keberadaan uang. Hal inilah yang mendorong mereka untuk bekerja terlampau keras hanya untuk memastikan bahwa uang yang mereka kumpulkan sudah berlebihan jumlahnya.

Tak tanggung-tanggung, mereka juga tidak akan ragu untuk meninggalkan keluarga mereka dalam jangka waktu yang lama hanya untuk terus mengais rezeki. Selain itu, mereka juga beranggapan bahwa kunci sebagian besar permasalahan adalah uang. Semakin banyak uang yang dimiliki, semakin cepat masalah tersebut selesai.

Keberadaan uang kini menjadi alasan kebahagiaan mereka. Mereka berpikir bahwa semakin banyak uang yang mereka miliki maka semakin bahagialah hidup mereka. Bukan hanya itu, mereka juga berasumsi bahwa mereka bisa mendapatkan kebebasan dengan uang. Inilah yang mendorong mereka untuk terus berbelanja untuk mencari arti kesenangan. Padahal, apa pun benda terakhir yang mereka beli, tidak pernah menjadi alasan kesenangan mereka.

3.Money Status Seeker: Mengukur Status dari Berapa Banyaknya Uang

Money Status Seeker cenderung berpikiran bahwa harga diri seseorang terletak pada kekeayaan yang dimiliki orang tersebut. Kekayaan tersebut bisa tercermin dari benda-benda yang digunakan, misalnya tas, sepatu, dan lain sebagainya.

Tentunya hal yang mereka beli tersebut adalah sesuatu yang baru. Karena itulah, mereka yang berkepribadian money status seeker tidak akan membeli barang bekas karena masih memiliki gengsi.

Mereka juga akan memastikan bahwa yang mereka beli adalah benda dengan kualitas terbaik. Barang-barang yang mereka beli tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan ke semua orang bahwa mereka sangat penting di dunia ini.

Akan tetapi, kepribadian semacam ini tentunya akan sangat buruk dalam hal kejujuran. Selain membohongi diri sendiri mengenai kemampuan penghasilan, mereka juga sering membohongi keluarga mereka. Berjudi tidak jarang ditemukan pada kalangan ini. Sebab memang mereka sangat membutuhkan uang untuk membuat mereka terpandang.

4.Money Vigilant: Selalu Waspada dalam Gunakan Uang

Money vigilant atau orang yang selalu waspada adalah julukan bagi mereka yang memiliki kewaspadaan tertentu dalam hal keuangan. Mereka berperilaku sangat terbalik dengan para si pejuang status. Mereka lebih mementingkan masa mendatang dibandingkan masa sekarang.

Hal inilah yang membuat mereka giat menabung untuk mengumpulkan dana masa depan. Ketika hendak membeli barang pun, sebisa mungkin mereka akan menghindari kredit. Sebab mereka sadar bahwa ada tagihan tambahan yang wajib mereka bayarkan di kemudian hari.

Si waspada ini sangat peduli akan pentingnya keberadaan uang saat-saat darurat. Saat-saat darurat tersebut bisa datang kapan saja. Inilah yang membuat si waspada terus termotivasi untuk tetap menabung. Sebisa mungkin mereka hanya membeli hal-hal yang mereka butuhkan saja.

Leave a Reply