3 Negara Berencana Boikot Piala Dunia 2018 Di Rusia, Ada Apa?

Piala Dunia 2018

Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop, mengindikasikan negaranya akan memboikot gelaran Piala Dunia 2018 di Rusia. Tindakan itu bisa saja diambil setelah Australia mengusir dua orang diplomat Rusia atas dugaan sebagai agen intelijen yang tidak diumumkan.

“Ada banyak opsi lebih lanjut dari aksi yang bisa diambil. Boikot Piala Dunia adalah salah satu aksi lanjutan yang bisa diambil terkait masalah ini,” ujar Menteri Luar Negeri Julie Bishop di Canberra, mengutip dari Reuters, Selasa (27/3/2018).

Akan tetapi, rencana tersebut dibantah oleh Federasi Sepakbola Australia (FFA). Mereka mengatakan bahwa sejauh ini keikutsertaan The Socceroos, julukan tim nasional sepakbola Australia, tetap sesuai rencana.

Indikasi untuk memboikot Piala Dunia 2018 juga diutarakan Kementerian Luar Negeri Islandia. Para pemimpin negara dipastikan tidak akan hadir di Piala Dunia yang akan berlangsung di Rusia pada Juni-Juli mendatang.

“Di antara tindakan-tindakan yang diambil oleh Islandia adalah penundaan kehadiran untuk sementara bagi semua dialog bilateral tingkat tinggi dengan otoritas Rusia. Konsekuensinya, pemimpin-pemimpin Islandia tidak akan hadir dalam Piala Dunia FIFA di Rusia pada musim panas,” bunyi keterangan resmi Kementerian Luar Negeri Islandia.

Langkah Islandia dan Australia itu sudah terlebih dahulu dilakukan oleh Inggris. Perdana Menteri (PM) Theresa May memastikan bahwa para menteri, pejabat tinggi, dan keluarga Kerajaan Inggris, tidak akan berkunjung ke Rusia selama pelaksanaan Piala Dunia 2018.

“Saya mengonfirmasi bahwa tidak akan ada menteri, atau keluarga Kerajaan Inggris, yang hadir pada Piala Dunia Rusia,” ujar Theresa May di hadapan Parlemen Inggris pada Rabu 14 Maret.

Pengusiran diplomat dan rencana memboikot Piala Dunia 2018 merupakan tindakan balasan kepada Rusia atas peracunan terhadap Sergei Skripal dan putrinya, Yulia, di Salisbury, Inggris, pada 4 Maret. Keduanya ditemukan tidak sadarkan diri di bangku taman di Salisbury.

Inggris mencurigai Rusia berada di balik insiden tersebut, mengingat Skripal diracuni dengan Novichok, racun mematikan tingkat militer yang diproduksi di Uni Soviet. Negara-negara Uni Eropa (UE) pada pekan lalu bersepakat dengan Inggris bahwa Rusia kemungkinan besar terlibat dalam peracunan mantan agen mata-matanya tersebut.

Leave a Reply