11 Asal Usul Nama Jalan Di Jakarta, Sudah Dari Ratusan Tahun Lalu!

jalan di jakarta

Seperti yang udah diketahui, bahwa pemda baru saja melakukan sosialisasi perubahan nama jalan di beberapa jalan di jakarta, seperti di Jalan terusan mampang prapatan – jalan warung buncit – diusulkan diubah jadi jalan AH Nasution.

Ngeganti nama jalan gak bisa seenak perut. Pasalnya, nama jalan terkait dengan sejarah dari warga betawi ratusan tahun yang lalu. Jalan juga yang membentuk identitas dari suatu daerah, bahkan suatu bangsa.

Mungkin pernah tahu atau udah lupa, berikut sejarah nama-nama jalan dan daerah di Jakarta.

Jl. Mampang Prapatan

Jalan mampang prapatan yang juga dijadikan nama kecamatan dan kelurahan di Jakarta Selatan berasal dari kata ‘mampang’ dari bahasa betawi yang artinya terpampang atau terlihat jelas. Dan prapatan yang artinya perempatan. Jadi maksud dari jalan Mampang Prapatan ini adalah simpang empat jalan dimana sangat mudah terlihat dengan jelas baik bagi pejalan kaki dan pengguna kendaraan bermotor.

Jalan Warung Buncit

Jalan atau daerah Warung Buncit berasal dari sebutan orang ke sebuah toko kelontong mirip orang tionghoa yang ada di sana jaman dulu, namanya Bun Tjit. Letaknya persis di perempatan duren tiga – mampang prapatan dan jalan warung jati barat. Dulu wilayah warung buncit adalah wilayah pertanian, bahkan namanya dulu adalah kampung pulo kalibata. Saking maju pesatnya itu warung, orang jadi ingatnya dengan warung buntjit ketika mereferensikan nama jalan tersebut.

Jalan Glodok

Jalan atau daerah Glodok yang berlokasi di Jakarta Barat dulunya berasal dari kata ‘gerojok’ , sebutan bunyi air yang jatuh dari pancuran air. Ceritanya dulu di tempat itu ada semacam waduk penampungan air Sungai Ciliwung. Namun, orang Tionghoa sulit menyebut kata gerojok. Sebagai gantinya mereka menyebut kata glodok sehingga daerah tersebut dikenal dengan nama glodok.

Senayan

Senayan adalah daerah milik saudagar asal Bali yang bernama Wangsanayan. Tanah tersebut disebut warga dengan sebutan Wangsanayan yang berarti tanah tempat tinggal atau tanah milik Wangsanayan. Seiring perkembangan, banyak orang hanya menyebutkan akhirannya saja, Senayan.

Jalan Kwitang

Jalan Kwitang di Jakarta Pusat, dulu sebagian besar tanahnya dimiliki oleh tuan tanah asal Tionghoa bernama Kwik Tang Kiam. Orang Betawi zaman dulu menyebut daerah itu sebagai kampungnya si Kwitang sampai akhirnya tempat tersebut hanya dinamai Kwitang.

Jalan Menteng

Jalan Menteng tak lepas dari buah yang bernama buah Menteng. Buah ini dulu tumbuh di daerah yang dulunya hutan. Sehingga ketika dijadikan kampung, banyak orang menyebutnya kampung Menteng. Setelah tanah itu dibeli oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1912 sebagai lokasi perumahan pegawai Pemerintah Hindia Belanda, daerah itu kemudian dikenal dengan nama Menteng.

Kebayoran

jalan atau daerah Kebayoran di Jakarta Selatan berasal dari kata kebayuran, yang artinya tempat penimbunan kayu bayur, kayu yang kokoh buat dijadikan bahan bangunan. Akhirnya, kebayuran kerap kali disebut orang dengan sebutan Kebayoran.

Jalan lebak bulus

Jalan atau daerah Lebak Bulus diambil dari kata “lebak” yang artinya lembah dan “bulus” yang berarti kura-kura. Jadi lebak bulus artinya lembah kura-kura. Disebut lembah kura-kura karena memang di daerah ini punya dua sungai yang di dalamnya banyak sekali kura-kura. Sungainya sih masih ada tapi gak tau masih ada kura-kuranya atau gak.

Jalan Kebagusan

Jalan atau daerah Kebagusan di Jakarta Selatan ini berasal dari nama gadis jelita, Tubagus Letak Lenang. Kecantikan gadis keturunan kesultanan Banten ini membuat banyak pemuda ingin meminangnya. Namun kisah ini berujung tragis, Agar tidak mengecewakan hati para pemuda, Tubagus akhirnya memilih bunuh diri. Makam Tubagus sampai sekarang masih ada dikenal dengan nama Ibu Bagus.

Jalan Ragunan

Daerah atau Jalan Ragunan berasal dari kata Wiraguna, yaitu gelar yang disandangkan dari Sultan Banten Abunasar Abdul Qahar, putra Sultan Ageng Tirtayasa kepada tuan tanah pertama di kawasan tersebut bernama Hendrik Lucaasz Cardeel. Lama kelamaan, daerah itu dikenal dengan sebutan Ragunan.

Cawang

Jaman belanda dulu, ada seorang letnan Melayu yang mengabdi pada kompeni, bernama Ende Awang. Ende Awang bersama anak buahnya bermukim di kawasan ini. Saking terkenalnya si letnan Ende Awang, lama kelamaan sebutan Ende Awang berubah menjadi Cawang.

Leave a Reply