10 Penjelasan Mengenai Fenomena Deja Vu, Sering Mengalami?

Fenomena Deja Vu

Deja vu adalah perasaan misterius di mana waktu tampaknya berjalan dengan gerak lambat, atau dengan kata lain kamu berada dalam situasi atau lingkungan yang sama sekali baru, tetapi rasanya pernah mengalami hal serupa sebelumnya. Namun, kamu tidak bisa sama sekali untuk menjelaskannya.

Banyak ilmuwan dan psikolog menyatakan penemuan-penemuan mengenai deja vu. Dilansir dari berbagai sumber, berikut 10 teori tentang deja vu yang bisa kamu pahami!

1. Melalui hipnosis, seorang ilmuwan melakukan tes dengan kata-kata

Pada tahun 2006, seorang ilmuwan di Leeds Memory Group berhasil menciptakan sensasi deja vu di dalam laboratorium terhadap 18 orang peserta. Peserta dihipnosis untuk melihat 24 kata yang dibagi dalam 2 kotak. Peserta diberi pemahaman bahwa salah satu kotak sebagai kotak familiar, dan satunya lagi tidak.

Setelah selesai hipnosis, peserta diperlihatkan semua kata-kata tadi secara acak. 10 orang dari mereka mengaku merasakan sensasi aneh ketika melihat kata-kata yang dikelompokkan dalam kotak familiar ketika hipnosis tadi. Itu merupakan deja vu.

2. Perasaan diawali oleh kenangan/memori palsu

Seorang psikolog terkemuka, Valerie F. Reyna, menyatakan perasaan deja vu diawali oleh memori palsu. Ini merupakan disasosiasi memori, yang membedakan realitas dari ingatan. Ada berbagai macam pengalaman disasosiatif yang bisa terjadi.

Terkadang kamu tidak dapat memastikannya, apakah kamu memimpikan sesuatu atau mengalaminya, apakah kamu melihatnya di film atau terjadi dalam kehidupan nyata. Pasti kamu pernah kan berpikir seperti itu?

3. Semacam gangguan sirkuit jangka panjang dan jangka pendek di dalam otak

Teori ini menjelaskan terjadinya deja vu adalah informasi baru yang diterima mengambil jalan pintas langsung ke ingatan jangka panjang. Ia melewati mekanisme yang seharusnya, yaitu mekanisme yang digunakan otak untuk menyimpan informasi.

4. Teori “Optical Pathway Delay

Teori ini menghubungkan deja vu dengan umur dan penyakit degeneratif. Proses penerimaan informasi yang diterima berbeda oleh kedua mata. Salah satu mata lebih dulu menerima informasi dan diterima lebih dahulu oleh otak, sehingga mata yang lainnya merasa seperti lebih familiar dengan apa yang dilihatnya saat itu. Namun teori itu terpatahkan, karena ternyata orang butapun dapat mengalami deja vu melalui indra lainnya, yaitu penciuman, pendengaran dan perabaan.

5. Dikaitkan dengan korteks rhinal pada otak

Korteks rhinal adalah area otak yang membuat kita merasa akrab. Sampai kini belum diketahui bagaimana cara mengaktifkan area ini tanpa memicu area lain yang berhubungan dengan memori. Sulit sekali menentukan apa yang terasa akrab dengan deja vu, karena rasa akrab biasanya samar dan tidak spesifik.

6. Daerah frontal otak dapat membolak-balikkan ingatan kita

Seorang peneliti, Akira O’Connor, menyebutkan bahwa kenangan atau memori palsu mungkin tidak dapat disalahkan dalam terjadinya deja vu. Mungkin saja fenomena itu terjadi ketika otak sedang memeriksa memori. Ia melakukan penelitian terhadap 21 peserta dengan cara memberi daftar kata-kata yang berhubungan dalam satu tema, yaitu tidur. Ketika ditanyai apakah peserta tahu dengan “tidur”, peserta menjawab “mungkin pernah”.

Peneliti memindai otak peserta dengan pemindai MRI dan menyimpulkan deja vu terjadi karena daerah frontal otak bisa membolik-balikkan ingatan kita. Daerah frontal akan mengirim sinyal jika tidak ada ketidakcocokan antara yang dipikirnya telah dialami dengan yang sebenarnya.

7. Pengalaman deja vu akan meningkat dengan munculnya penyakit-penyakit degeneratif

Susumu Tonegawa, seorang neuroscientist MIT, melakukan eksperimen pada sejumlah tikus yang tidak memiliki dentate gyrus, yaitu bagian yang bertugas mencatat seluruh informasi yang diterima melalui panca indra. Adanya dentate gyrus ini memudahkan membedakan pengalaman baru dengan yang sudah pernah dirasakan sebelumnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tikus-tikus yang dentate gyrus-nya tidak berfungsi normal ini mengalami kesulitan dalam membedakan dua situasi yang serupa tapi tak sama. Sehingga semakin banyak penyakit-penyakit degeneratif, pengalaman deja vuakan semakin meningkat.

8. Ditemukan penderita deja vu kronis

Chris Moulin dari University of Leeds menemukan penderita deja vu kronis. Penderita bisa menjelaskan secara rinci peristiwa yang tidak pernah terjadi. Mereka bahkan memilih untuk tidak melakukan sesuatu karena merasa sudah melakukannya.

Parahnya lagi, ketika sakit, mereka tidak mau ke dokter karena merasa sudah pergi ke dokter dan bahkan bisa menceritakan pengalamannya ke dokter, yang adalah palsu. Ini yang masih dibingungkan, apakah ini deja vu atau delusi.

9. Berhubungan dengan mitos supranatural

Fenomena deja vu sempat memunculkan beberapa teori metafisis (dihubungkan dengan mitos supranatural). Teori-teori ini menyatakan bahwa deja vu berasal dari kejadian serupa yang pernah dialami oleh diri kita pada kehidupan reinkarnasi sebelumnya.

10. Mungkin terjadi secara kebetulan

Kenneth Pellerdari Northwestern University mengatakan deja vu mungkin terjadi secara kebetulan saja. Mungkin peristiwa yang dialami itu hanya serupa atau mirip dengan yang pernah dibayangkan.

Itulah beberapa teori yang pernah ada mengenai deja vu. Semoga bisa memberi pencerahan bagi kamu yang penasaran, ya. Mau percaya yang mana, itu kembali ke diri kamu sendiri.

Leave a Reply